Pembangunan Jembatan Mancang Riek di Gampong Tangan-Tangan Cut, Kecamatan Setia, Kabupaten Aceh Barat Daya, segera dilanjutkan pada 2026 setelah sempat terbengkalai hampir satu dekade. Dinas PUPR Abdya menargetkan tahap awal berupa pembangunan struktur abutment dengan dukungan anggaran DOKA lebih dari Rp1,3 miliar.
SETIA - Jembatan itu dinilai penting karena menjadi jalur penghubung antarwilayah, terutama Gampong Tangan-Tangan Cut menuju Ujung Tanoh di Kecamatan Setia serta akses ke Kecamatan Tangan-Tangan. Infrastruktur tersebut juga dibutuhkan warga untuk memperlancar mobilitas harian dan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat lintas Kecamatan.
Selain itu, Jembatan Mancang Riek juga menghubungkan empat Desa, yakni Lhang, Ujong Tanoh, Tangan-Tangan Cut, dan Mon Mameh. Karena itu, kelanjutan proyek tersebut telah lama dinantikan warga setelah pengerjaannya sempat berhenti tanpa kepastian.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Abdya, Darma Musliandi, mengatakan pekerjaan lanjutan pada tahun anggaran 2026 difokuskan pada pembangunan struktur bawah jembatan atau abutment.
“Pembangunannya pekan ini dengan sumber anggaran Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) sebesar Rp1,3 miliar lebih,” kata Darma Musliandi, Selasa (7/7/2026).
Menurut dia, proses serah terima lapangan atau Mutual Check Awal (MC-0) telah dilakukan kepada pihak rekanan. Tahapan itu ditempuh agar pelaksanaan fisik di lapangan bisa segera dipacu sesuai rencana yang telah disusun.
Ia menjelaskan, keterbatasan pagu anggaran pada tahun ini membuat pekerjaan belum bisa menyentuh keseluruhan konstruksi jembatan. Karena itu, pengerjaan 2026 diprioritaskan lebih dulu pada penyelesaian bagian abutment sebagai fondasi penting untuk tahapan lanjutan.
Sebelumnya, pembangunan jembatan tersebut pernah dirancang pada 2017. Sejumlah tiang pancang bahkan sudah berdiri di lokasi. Namun setelah itu proyek tidak berlanjut dan anggarannya disebut dialihkan ke wilayah lain.
Untuk memastikan kesiapan pekerjaan, Darma bersama jajaran teknis Dinas PUPR Abdya telah meninjau langsung lokasi jembatan pada Senin (6/7/2026). Peninjauan itu dilakukan guna melihat kondisi lapangan sekaligus mencocokkan kebutuhan teknis sebelum pekerjaan dimulai.
“Kami turun langsung bersama tim teknis untuk melihat kondisi riil di lapangan serta memastikan keakuratan data perencanaan teknisnya. Langkah awal peninjauan ini sangat penting dan krusial agar seluruh proses perencanaan berjalan dengan matang,” ujar Luken, sapaan akrab Darma Musliandi.
Ia menambahkan, ketelitian sejak tahap awal dibutuhkan agar pembangunan jembatan tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga memiliki kualitas struktur yang baik. Dengan begitu, jembatan nantinya dapat memberi rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang melintas.
“Nanti kelanjutan badan jembatan yang diprediksi 40 meter panjangnya akan kita usulkan kembali pada tahun depan,” pungkas Luken.
![]() |
| Tim teknis PUPR Abdya meninjau lokasi pembangunan Jembatan Mancang Riek, Setia/foto/ist |
SETIA - Jembatan itu dinilai penting karena menjadi jalur penghubung antarwilayah, terutama Gampong Tangan-Tangan Cut menuju Ujung Tanoh di Kecamatan Setia serta akses ke Kecamatan Tangan-Tangan. Infrastruktur tersebut juga dibutuhkan warga untuk memperlancar mobilitas harian dan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat lintas Kecamatan.
Selain itu, Jembatan Mancang Riek juga menghubungkan empat Desa, yakni Lhang, Ujong Tanoh, Tangan-Tangan Cut, dan Mon Mameh. Karena itu, kelanjutan proyek tersebut telah lama dinantikan warga setelah pengerjaannya sempat berhenti tanpa kepastian.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Abdya, Darma Musliandi, mengatakan pekerjaan lanjutan pada tahun anggaran 2026 difokuskan pada pembangunan struktur bawah jembatan atau abutment.
“Pembangunannya pekan ini dengan sumber anggaran Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) sebesar Rp1,3 miliar lebih,” kata Darma Musliandi, Selasa (7/7/2026).
Menurut dia, proses serah terima lapangan atau Mutual Check Awal (MC-0) telah dilakukan kepada pihak rekanan. Tahapan itu ditempuh agar pelaksanaan fisik di lapangan bisa segera dipacu sesuai rencana yang telah disusun.
Ia menjelaskan, keterbatasan pagu anggaran pada tahun ini membuat pekerjaan belum bisa menyentuh keseluruhan konstruksi jembatan. Karena itu, pengerjaan 2026 diprioritaskan lebih dulu pada penyelesaian bagian abutment sebagai fondasi penting untuk tahapan lanjutan.
Sebelumnya, pembangunan jembatan tersebut pernah dirancang pada 2017. Sejumlah tiang pancang bahkan sudah berdiri di lokasi. Namun setelah itu proyek tidak berlanjut dan anggarannya disebut dialihkan ke wilayah lain.
Untuk memastikan kesiapan pekerjaan, Darma bersama jajaran teknis Dinas PUPR Abdya telah meninjau langsung lokasi jembatan pada Senin (6/7/2026). Peninjauan itu dilakukan guna melihat kondisi lapangan sekaligus mencocokkan kebutuhan teknis sebelum pekerjaan dimulai.
“Kami turun langsung bersama tim teknis untuk melihat kondisi riil di lapangan serta memastikan keakuratan data perencanaan teknisnya. Langkah awal peninjauan ini sangat penting dan krusial agar seluruh proses perencanaan berjalan dengan matang,” ujar Luken, sapaan akrab Darma Musliandi.
Ia menambahkan, ketelitian sejak tahap awal dibutuhkan agar pembangunan jembatan tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga memiliki kualitas struktur yang baik. Dengan begitu, jembatan nantinya dapat memberi rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang melintas.
“Nanti kelanjutan badan jembatan yang diprediksi 40 meter panjangnya akan kita usulkan kembali pada tahun depan,” pungkas Luken.


