Hasan (39), peternak lele asal Desa Pante Geulumpang, Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), berhasil mengembangkan usaha budidaya lele Sangkuriang hingga rutin memasok kebutuhan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), setelah menekuni usaha tersebut selama sekitar satu tahun delapan bulan.
TANGAN - TANGAN - Memulai usaha dari tahap awal, Hasan kini mampu mengelola budidaya secara lebih teratur. Dalam satu siklus produksi, ia menebar sekitar 15.000 bibit lele. Saat panen, hasil yang diperoleh mencapai sekitar 800 kilogram lele siap konsumsi dengan ukuran rata-rata 10 hingga 12 ekor per kilogram.
Lele hasil budidayanya dipasarkan dengan harga berkisar Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram. Selama ini, penjualan dilakukan langsung di lokasi kolam, di mana pelanggan datang memesan sekaligus mengambil hasil panen.
"Dulu awal memulai ternak lele Sangkuriang ini, saya sempat lumayan kewalahan memikirkan pemasaran karena peminatnya masih sepi. Tapi seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai banyak yang suka," ungkap Hasan, Minggu (2/8/2026), di lokasi kolam miliknya.
Untuk memenuhi kebutuhan budidaya, Hasan masih mendatangkan bibit unggul dari Medan, Sumatera Utara. Menurutnya, biaya pengiriman menjadi tantangan karena pemesanan harus dilakukan dalam jumlah besar agar lebih efisien.
Menghadapi kondisi tersebut, Hasan mulai mempelajari teknik pemijahan secara mandiri. Langkah itu ditempuh agar kebutuhan bibit dapat dipenuhi dari daerah sendiri tanpa bergantung pada pasokan luar.
"Kalau kita sudah bisa memproduksi bibit sendiri, kita tidak perlu jauh-jauh lagi pesan ke Medan. Cukup dipenuhi dari tempat kita saja," tutur Hasan optimistis.
Dalam mengembangkan usahanya, Hasan memanfaatkan kolam beton dan kolam terpal plastik. Penggunaan kolam terpal dipilih karena lebih praktis dan ekonomis dibandingkan kolam tanah yang membutuhkan proses penggalian.
Permintaan pasar yang terus meningkat, termasuk pasokan rutin untuk dapur MBG, mendorong Hasan berencana memperluas usaha. Ia berharap memperoleh tambahan modal agar dapat membangun beberapa kolam baru sehingga kapasitas produksi dapat meningkat pada masa mendatang.
![]() |
| Hasan menunjukkan kolam budidaya lele Sangkuriang yang memasok kebutuhan dapur MBG Abdya/foto/ist |
TANGAN - TANGAN - Memulai usaha dari tahap awal, Hasan kini mampu mengelola budidaya secara lebih teratur. Dalam satu siklus produksi, ia menebar sekitar 15.000 bibit lele. Saat panen, hasil yang diperoleh mencapai sekitar 800 kilogram lele siap konsumsi dengan ukuran rata-rata 10 hingga 12 ekor per kilogram.
Lele hasil budidayanya dipasarkan dengan harga berkisar Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram. Selama ini, penjualan dilakukan langsung di lokasi kolam, di mana pelanggan datang memesan sekaligus mengambil hasil panen.
"Dulu awal memulai ternak lele Sangkuriang ini, saya sempat lumayan kewalahan memikirkan pemasaran karena peminatnya masih sepi. Tapi seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai banyak yang suka," ungkap Hasan, Minggu (2/8/2026), di lokasi kolam miliknya.
Untuk memenuhi kebutuhan budidaya, Hasan masih mendatangkan bibit unggul dari Medan, Sumatera Utara. Menurutnya, biaya pengiriman menjadi tantangan karena pemesanan harus dilakukan dalam jumlah besar agar lebih efisien.
Menghadapi kondisi tersebut, Hasan mulai mempelajari teknik pemijahan secara mandiri. Langkah itu ditempuh agar kebutuhan bibit dapat dipenuhi dari daerah sendiri tanpa bergantung pada pasokan luar.
"Kalau kita sudah bisa memproduksi bibit sendiri, kita tidak perlu jauh-jauh lagi pesan ke Medan. Cukup dipenuhi dari tempat kita saja," tutur Hasan optimistis.
Dalam mengembangkan usahanya, Hasan memanfaatkan kolam beton dan kolam terpal plastik. Penggunaan kolam terpal dipilih karena lebih praktis dan ekonomis dibandingkan kolam tanah yang membutuhkan proses penggalian.
Permintaan pasar yang terus meningkat, termasuk pasokan rutin untuk dapur MBG, mendorong Hasan berencana memperluas usaha. Ia berharap memperoleh tambahan modal agar dapat membangun beberapa kolam baru sehingga kapasitas produksi dapat meningkat pada masa mendatang.


