Haba Nanggroe

HABA NANGGROE
Memuat...

Iklan

terkini

Langsa Menuju Green Muslim Destination

Fitriadi
7/22/26, 22:48 WIB Last Updated 2026-07-22T15:48:42Z
Tidak banyak kota di Indonesia yang memiliki modal pariwisata sebesar Langsa. Ketika banyak daerah menghabiskan anggaran untuk membangun destinasi baru, Langsa justru telah dianugerahi kekayaan yang sulit ditandingi: salah satu kawasan hutan mangrove terbesar di Asia Tenggara, masyarakat yang religius, serta identitas budaya Aceh yang masih terpelihara kuat. Pertanyaannya, sudahkah seluruh potensi itu benar-benar diubah menjadi kesejahteraan bagi masyarakat?

Zulhilmi Dosen STIKES Bustanul Ulum Langsa, Mahasiswa Manajemen Industri Halal, INHART-International Islamic University Malaysia/foto/ist

Ketika Hutan Mangrove Bertemu Nilai Islam dan Peluang Global

Oleh: Zulhilmi Dosen STIKES Bustanul Ulum Langsa, Mahasiswa Manajemen Industri Halal, INHART-International Islamic University Malaysia.


LANGSA - Di pesisir timur Aceh terbentang sekitar 8.000 hektare hutan mangrove yang menjadi rumah bagi puluhan spesies mangrove serta beragam burung, ikan, reptil, dan mamalia. Dari puncak Menara Pandang Mangrove setinggi sekitar 45 meter, pengunjung dapat menikmati panorama hutan bakau yang menyatu dengan Selat Malaka. Tidak mengherankan jika kawasan ini pernah meraih penghargaan nasional sebagai destinasi ekowisata dan mendapat perhatian pemerintah pusat. Saat meresmikan menara tersebut pada 2022, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, bahkan menyebut Kuala Langsa sebagai destinasi yang memiliki kelas internasional.

Namun, keindahan alam saja tidak cukup. Di tengah pertumbuhan pesat wisata halal dunia, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi apakah Langsa memiliki daya tarik wisata, melainkan apakah kota ini mampu mengelolanya menjadi destinasi yang berkelanjutan, ramah bagi wisatawan Muslim, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat lokal.

Di sinilah gagasan Green Muslim Destination menjadi relevan. Langsa sesungguhnya memiliki seluruh modal dasar untuk menjadi contoh bagaimana konservasi lingkungan, nilai-nilai Islam, dan pembangunan ekonomi dapat berjalan beriringan. Yang dibutuhkan bukan sekadar membangun lebih banyak fasilitas wisata, tetapi menyusun arah pengembangan yang menjadikan identitas Islam dan kelestarian mangrove sebagai keunggulan utama destinasi.

Potensi yang Sudah Terbukti

Langsa bukan daerah yang sedang merintis dari nol. Potensi wisatanya telah memperoleh pengakuan di tingkat nasional. Mangrove Forest Park Kuala Langsa meraih Juara I Kategori Ekowisata Terpopuler sekaligus Juara Terfavorit pada Anugerah Pesona Indonesia (API) Awards 2019 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Setahun kemudian, Langsa kembali mencatat prestasi melalui Tari Rampoe Aceh yang dinobatkan sebagai Atraksi Budaya Terpopuler pada API Awards 2020.

Dua penghargaan dalam dua tahun berturut-turut pada kategori yang berbeda menunjukkan bahwa kekuatan Langsa tidak hanya bertumpu pada keindahan alam, tetapi juga pada kekayaan budaya yang menjadi identitas masyarakatnya. Kombinasi antara ekowisata mangrove dan warisan budaya merupakan modal yang tidak dimiliki banyak daerah.

Namun, penghargaan hanyalah pengakuan atas potensi, bukan jaminan keberhasilan pembangunan pariwisata. Destinasi yang berkelanjutan tidak diukur dari banyaknya trofi yang diraih, melainkan dari kemampuannya menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan, dan membangun identitas yang kuat di mata wisatawan.

Di sinilah tantangan Langsa sesungguhnya. 
Di tengah meningkatnya permintaan terhadap wisata halal dan wisata berbasis alam di tingkat global, sudah saatnya pengakuan nasional tersebut diterjemahkan menjadi sebuah ekosistem pariwisata yang terkelola secara profesional, berlandaskan nilai-nilai Islam, serta mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir. Dengan modal alam, budaya, dan identitas religius yang dimiliki, Langsa memiliki peluang besar untuk melangkah lebih jauh sebagai Green Muslim Destination.

Mengapa Green Muslim Destination dan Mengapa Sekarang?

Green Muslim Destination bukan sekadar destinasi wisata yang menyediakan makanan halal atau musala. Lebih dari itu, ia adalah konsep pembangunan pariwisata yang memadukan kelestarian lingkungan dengan nilai-nilai Islam. Alam tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga amanah yang harus dijaga.

Konsep ini menjadi semakin relevan karena bertemunya dua tren besar dunia. Di satu sisi, pasar wisata halal terus tumbuh pesat. Pada 2024, jumlah perjalanan wisatawan Muslim internasional mencapai sekitar 176 juta, dan diproyeksikan meningkat menjadi 245 juta pada 2030 dengan nilai ekonomi sekitar USD 230 miliar. Di sisi lain, semakin banyak wisatawan, terutama generasi muda, yang memilih destinasi yang tidak hanya indah, tetapi juga berkelanjutan, autentik, dan memiliki nilai yang sejalan dengan kepedulian mereka terhadap lingkungan.

Langsa berada tepat di persimpangan dua tren tersebut. Hutan mangrove bukan hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga menyediakan berbagai jasa ekosistem yang sangat penting: menyerap karbon, melindungi garis pantai dari abrasi, menjadi habitat berbagai satwa, sekaligus menopang kehidupan masyarakat pesisir. Nilai ekologis inilah yang menjadikan mangrove sebagai fondasi utama ekowisata berkelanjutan.

Dalam ajaran Islam, menjaga alam bukan sekadar pilihan etis, melainkan bagian dari amanah sebagai khalifah fil ardh. Al-Qur'an berulang kali mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi dan memanfaatkan sumber daya alam secara bertanggung jawab. Dengan demikian, konservasi mangrove tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga nilai spiritual.

Di sinilah Green Muslim Destination menemukan makna yang sesungguhnya. Pariwisata tidak lagi dipandang semata sebagai mesin pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sebagai sarana merawat ciptaan Allah, memperkuat kesejahteraan masyarakat, dan menjaga keberlanjutan lingkungan. Dengan bentang mangrove yang luas, identitas masyarakat yang religius, serta budaya lokal yang kuat, Langsa memiliki modal yang sangat sedikit dimiliki daerah lain untuk mewujudkan visi tersebut.

Bagi Langsa, hutan mangrove bukan sekadar objek wisata. Ia adalah warisan ekologis, amanah keagamaan, dan modal ekonomi yang dapat tumbuh secara bersamaan apabila dikelola dengan visi yang tepat.

Tiga Peluang Konkret yang Belum Dioptimalkan

Jika Green Muslim Destination ingin diwujudkan, Langsa sesungguhnya tidak perlu memulai dari nol. Modal alamnya sudah tersedia, identitas keislamannya telah mengakar, dan berbagai inisiatif pembangunan mulai bermunculan. Yang dibutuhkan bukan mencari potensi baru, melainkan mengintegrasikan berbagai potensi tersebut ke dalam satu arah pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Setidaknya terdapat tiga peluang besar yang layak menjadi prioritas.

Pertama, ekonomi karbon berbasis konservasi.

Selama ini hutan sering dipandang bernilai ketika kayunya dapat dimanfaatkan. Mangrove justru menunjukkan logika yang berbeda. Semakin utuh hutannya, semakin tinggi nilai ekonomi yang dapat dihasilkan melalui jasa lingkungan dan perdagangan karbon. Pada Februari 2024, Pemerintah Kota Langsa bersama PT Pembangunan Aceh (PEMA) menandatangani kerja sama pengelolaan karbon dan jasa lingkungan di kawasan mangrove seluas hampir 5.000 hektare. Ini membuka peluang ekonomi baru yang tidak mengorbankan alam, tetapi justru memberikan insentif agar masyarakat menjaga hutan tetap lestari.

Bagi Langsa, langkah ini bukan sekadar proyek lingkungan. Ia dapat menjadi contoh bagaimana konservasi mampu menciptakan sumber pendapatan baru sekaligus memperkuat posisi kota sebagai destinasi wisata yang bertanggung jawab. Dalam perspektif Islam, menjaga alam bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga bentuk ikhtiar menghadirkan kemaslahatan bagi generasi yang akan datang.

Kedua, pengembangan UMKM halal berbasis mangrove.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa beberapa jenis mangrove dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, seperti sirup, dodol, keripik, teh, hingga
selai. Produk-produk tersebut tidak lahir dari eksploitasi hutan, melainkan dari pemanfaatan yang berkelanjutan sehingga memberikan alasan ekonomi bagi masyarakat untuk terus menjaga kelestarian mangrove.

Apabila dikembangkan dengan standar mutu yang baik, sertifikasi halal, kemasan yang menarik, dan pemasaran digital yang kuat, produk-produk ini berpotensi menjadi identitas baru oleh-oleh khas Langsa. Wisatawan tidak hanya membawa pulang makanan, tetapi juga membawa cerita tentang sebuah kota yang berhasil menghubungkan konservasi lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Ketiga, wisata edukasi berbasis Islam dan lingkungan.

Kawasan Mangrove Kuala Langsa memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai laboratorium pembelajaran terbuka. Kerja sama yang telah terjalin antara PT Pelabuhan Kuala Langsa (PEKOLA) dan Universitas Samudra dalam bidang penelitian dan konservasi merupakan fondasi yang sangat baik untuk mengembangkan wisata edukasi yang lebih inovatif.

Bayangkan sebuah paket wisata di mana pengunjung tidak hanya menikmati keindahan mangrove, tetapi juga memahami fungsi ekologisnya sebagai pelindung pesisir, penyerap karbon, dan habitat berbagai satwa. Pada saat yang sama, mereka diajak mengenal bagaimana Islam memandang manusia sebagai khalifah fil ardh yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Pengalaman seperti ini akan memberikan nilai tambah yang sulit ditemukan di destinasi lain, sekaligus menjadikan Langsa sebagai ruang belajar bagi keluarga, sekolah, pesantren, maupun komunitas yang ingin menggabungkan wisata dengan pendidikan.

Ketiga peluang tersebut menunjukkan bahwa Green Muslim Destination bukanlah sebuah konsep yang utopis. Fondasi untuk mewujudkannya sesungguhnya sudah tersedia di Langsa. Yang masih diperlukan adalah keberanian untuk mengintegrasikan kebijakan pemerintah, pengelolaan destinasi, pemberdayaan masyarakat, serta komitmen menjaga kelestarian mangrove ke dalam satu visi pembangunan pariwisata. Dengan langkah tersebut, Langsa tidak hanya akan dikenal sebagai kota yang memiliki hutan mangrove yang indah, tetapi juga sebagai contoh bagaimana nilai-nilai Islam, konservasi lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat dapat tumbuh secara harmonis dalam satu destinasi.

Tantangan yang Tidak Boleh Diabaikan

Optimisme terhadap masa depan pariwisata Langsa harus berjalan beriringan dengan keberanian melihat berbagai persoalan yang masih dihadapi. Green Muslim Destination tidak akan terwujud hanya karena Langsa memiliki hutan mangrove yang luas atau masyarakat yang religius. Ia membutuhkan ekosistem yang mampu menjaga alam sekaligus menghadirkan pengalaman wisata yang berkualitas.

Tantangan pertama adalah menjaga mangrove sebagai aset utama pariwisata.Ancaman terbesar justru bukan datang dari wisatawan, melainkan dari tekanan terhadap kawasan mangrove itu sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir muncul berbagai usulan pemanfaatan kawasan pesisir untuk kepentingan ekonomi,

termasuk pengajuan izin konsesi pada kawasan mangrove di pesisir timur Aceh. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa hutan mangrove tidak boleh dipandang sebagai cadangan lahan, tetapi sebagai aset strategis yang menopang pariwisata, perlindungan pesisir, keanekaragaman hayati, hingga ekonomi karbon. Tanpa komitmen yang kuat terhadap konservasi, Langsa berisiko kehilangan fondasi utama yang justru menjadi keunggulan kompetitifnya.

Tantangan kedua adalah meningkatkan kesiapan destinasi sebagai wisata halal. Hasil penelitian yang kami lakukan menunjukkan bahwa kawasan Mangrove Forest Park Kuala Langsa telah memiliki sejumlah fasilitas dasar, seperti musala, toilet yang terpisah, dan pusat kuliner. Namun, kesiapan tersebut belum sepenuhnya memenuhi standar destinasi wisata halal. Sertifikasi halal bagi pelaku usaha, penunjuk arah menuju fasilitas ibadah, informasi wisata berbasis nilai-nilai Islam, hingga penguatan promosi digital masih memerlukan perhatian. Kehadiran syariat Islam dan masyarakat yang religius memang menjadi modal penting, tetapi wisatawan membutuhkan bukti yang dapat mereka rasakan secara langsung melalui layanan dan fasilitas yang tersedia.

Tantangan ketiga adalah membangun tata kelola yang terintegrasi. Pengembangan kawasan mangrove melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah daerah, pengelola kawasan, perguruan tinggi, pelaku UMKM, komunitas lokal, hingga lembaga keagamaan. Sayangnya, berbagai program tersebut masih sering berjalan sendiri-sendiri. Data pariwisata, pemberdayaan UMKM, konservasi lingkungan, hingga promosi destinasi belum sepenuhnya berada dalam satu arah pembangunan yang sama. Padahal, Green Muslim Destination hanya dapat diwujudkan apabila seluruh pemangku kepentingan memiliki visi bersama dan pembagian peran yang jelas.

Pada akhirnya, persoalan Langsa bukanlah kekurangan potensi. Justru sebaliknya, modal alam, budaya, dan identitas Islam telah tersedia dengan sangat kuat. Tantangan sesungguhnya adalah mengubah berbagai keunggulan tersebut menjadi sebuah sistem pariwisata yang terkelola secara profesional, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Di sinilah kepemimpinan pemerintah daerah, dukungan masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor akan menjadi penentu apakah Langsa hanya dikenal sebagai kota yang memiliki hutan mangrove yang indah, atau mampu berkembang menjadi Green Muslim Destination yang menjadi rujukan bagi Aceh dan Indonesia.

Dari Langsa untuk Aceh: Membangun Model Green Muslim Destination

Keunggulan gagasan Green Muslim Destination tidak berhenti pada manfaatnya bagi Kota Langsa. Jika berhasil diwujudkan, konsep ini berpotensi menjadi model pembangunan pariwisata yang dapat direplikasi di berbagai wilayah Aceh.

Provinsi ini dianugerahi bentang alam yang sangat beragam. Dari hutan hujan tropis di Gayo Lues, danau dan perkebunan kopi di Aceh Tengah, pantai dan kawasan bahari di Simeulue, hingga jejak sejarah tsunami di Banda Aceh, setiap daerah memiliki karakter dan daya tarik yang berbeda. Namun, semuanya memiliki satu kesamaan: kekayaan alam yang dapat dikembangkan selaras dengan identitas Aceh sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam.

Selama ini, Aceh telah dikenal sebagai salah satu destinasi wisata halal terbaik di Indonesia, bahkan memperoleh berbagai pengakuan di tingkat nasional maupun internasional. Namun, masih ada ruang yang dapat diperkuat, yaitu menghadirkan narasi bahwa wisata halal tidak hanya identik dengan makanan halal, fasilitas ibadah, atau budaya Islami, tetapi juga dengan komitmen menjaga lingkungan dan memberdayakan masyarakat lokal.

Di sinilah Langsa memiliki peluang untuk menjadi pelopor. Apabila kota ini mampu membangun ekosistem pariwisata yang memadukan konservasi mangrove, ekonomi halal, pemberdayaan UMKM, serta tata kelola yang baik, maka pengalaman tersebut dapat menjadi rujukan bagi daerah-daerah lain di Aceh. Setiap wilayah tentu memiliki potensi yang berbeda, tetapi prinsip dasarnya sama: menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan pembangunan yang sekaligus menjaga kelestarian alam.

Pada akhirnya, keberhasilan Langsa bukan hanya akan menjadi kebanggaan masyarakat kota ini. Ia dapat menjadi bukti bahwa pembangunan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan ajaran Islam bukanlah tujuan yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan dalam satu visi pembangunan. 

Dari Langsa, Aceh berpeluang menghadirkan sebuah model pariwisata yang tidak hanya menarik bagi wisatawan, tetapi juga relevan bagi masa depan pembangunan daerah.

Langkah yang Perlu Diambil

Potensi besar tidak akan berarti tanpa langkah nyata. Langsa tidak perlu menunggu investasi raksasa atau proyek spektakuler untuk memulai. Fondasi menuju Green Muslim Destination sebenarnya sudah tersedia. Yang dibutuhkan sekarang adalah arah kebijakan yang jelas, kolaborasi antarpemangku kepentingan, dan keberanian menjadikan keberlanjutan sebagai identitas pembangunan pariwisata.

Langkah pertama adalah menetapkan Green Muslim Destination sebagai visi resmi pengembangan pariwisata Kota Langsa. Konsep ini tidak cukup berhenti sebagai slogan promosi, tetapi harus menjadi kerangka yang memandu setiap kebijakan pembangunan kawasan wisata. Dalam kerangka tersebut, kelestarian hutan mangrove menjadi prinsip yang tidak dapat ditawar. Sebab, tanpa mangrove yang tetap lestari, seluruh daya tarik wisata yang dimiliki Langsa perlahan akan kehilangan fondasinya.

Langkah berikutnya adalah memperkuat ekosistem ekonomi masyarakat melalui pengembangan UMKM halal berbasis mangrove. Berbagai produk yang telah dihasilkan masyarakat, mulai dari olahan pangan hingga cendera mata berbahan mangrove, perlu didorong naik kelas melalui sertifikasi halal, peningkatan kualitas kemasan, penguatan merek, serta akses pemasaran digital yang lebih luas. Pada saat yang sama, masyarakat pesisir harus ditempatkan sebagai pelaku utama pembangunan pariwisata, bukan sekadar penonton. Semakin besar manfaat ekonomi yang mereka rasakan, semakin kuat pula insentif untuk menjaga kelestarian hutan mangrove.

Langkah ketiga adalah mengembangkan wisata edukasi yang memadukan konservasi lingkungan dengan nilai-nilai Islam. Kerja sama yang telah terjalin antara pengelola kawasan dan Universitas Samudra merupakan modal awal yang sangat baik untuk merancang paket wisata edukatif berbasis riset. Wisatawan tidak hanya diajak menikmati keindahan hutan mangrove, tetapi juga memahami pentingnya konservasi pesisir, mengenal kearifan masyarakat lokal, serta memaknai ajaran Islam tentang amanah manusia sebagai penjaga bumi. Pengalaman semacam inilah yang semakin dicari wisatawan Muslim modern, yang tidak sekadar ingin berlibur, tetapi juga memperoleh nilai dan pembelajaran.

Lebih jauh lagi, seluruh langkah tersebut memerlukan koordinasi yang lebih erat antara pemerintah daerah, pengelola kawasan, perguruan tinggi, pelaku usaha, komunitas masyarakat, dan para ulama. Keberhasilan sebuah destinasi tidak hanya ditentukan oleh keindahan alamnya, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan bergerak menuju tujuan yang sama.

Mangrove sebagai Metafora

Ada sesuatu yang dapat kita pelajari dari cara hutan mangrove bertahan hidup. Akar-akarnya yang saling bertaut tidak hanya menopang pohon-pohon yang tumbuh di atasnya, tetapi juga menjadi tempat berlindung bagi ribuan organisme yang menjaga keseimbangan kehidupan pesisir. Mangrove tumbuh di wilayah peralihan, di antara daratan dan lautan, kawasan yang sering dianggap kurang produktif. Namun justru dari ruang peralihan itulah lahir salah satu ekosistem paling bernilai di dunia.

Langsa hari ini memiliki kemiripan dengan hutan mangrove itu. Kota ini berada di persimpangan antara tradisi dan modernitas, antara konservasi dan pembangunan, antara identitas keislaman yang kuat dan peluang ekonomi global yang terus berkembang. Posisi tersebut bukanlah kelemahan, melainkan keunggulan yang, apabila dikelola dengan visi yang tepat, dapat menjadi fondasi pembangunan yang berkelanjutan.

Gagasan Green Muslim Destination pada hakikatnya bukanlah upaya menjadikan Langsa menyerupai destinasi wisata lain. Sebaliknya, konsep ini mengajak Langsa untuk bertumbuh dari jati dirinya sendiri: sebuah kota pesisir yang memadukan kekayaan alam, nilai-nilai Islam, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Di sinilah mangrove tidak lagi dipandang sekadar objek wisata, tetapi menjadi simbol bahwa pembangunan ekonomi dapat berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan penguatan nilai-nilai keagamaan.

Apabila Langsa mampu menunjukkan bahwa menjaga hutan mangrove dapat menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian alam, sekaligus memperkuat identitasnya sebagai destinasi yang ramah bagi wisatawan Muslim, maka keberhasilan itu akan memiliki makna yang jauh melampaui batas kota ini. Langsa tidak hanya akan dikenal sebagai kota yang memiliki hutan mangrove, tetapi sebagai kota yang berhasil membuktikan bahwa pembangunan, konservasi, dan syariat Islam dapat berjalan beriringan.

Di tengah dunia yang semakin mencari destinasi yang berkelanjutan, autentik, dan bermakna, Langsa sesungguhnya tidak perlu mencari identitas baru. Identitas itu telah tumbuh bersama akar-akar mangrovenya, hidup dalam budaya masyarakatnya, dan mengakar dalam nilai-nilai Islam yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Yang dibutuhkan sekarang bukanlah menciptakan sesuatu yang baru, melainkan merawat, mengelola, dan memperkenalkan kekuatan yang telah dimiliki kepada dunia.

Pada akhirnya, masa depan Langsa mungkin tidak ditentukan oleh seberapa banyak destinasi wisata yang dibangun, melainkan oleh seberapa baik kota ini menjaga mangrove yang telah lebih dahulu membesarkannya. Jika itu mampu diwujudkan, Langsa tidak hanya akan menjadi kebanggaan Aceh, tetapi juga dapat menjadi contoh bahwa kelestarian alam, kesejahteraan masyarakat, dan nilai-nilai Islam dapat tumbuh bersama dalam satu arah pembangunan.
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Langsa Menuju Green Muslim Destination

Terkini

Iklan Advertica