Iklan

terkini

Pemkab Abdya Usulkan Jembatan Permanen Rp15 Miliar untuk Lhok Batee Intan

Fitriadi
Jumat, 26 Juni 2026, 12.48.00 WIB Last Updated 2026-06-26T05:48:06Z
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengusulkan pembangunan jembatan permanen senilai Rp15 miliar yang menghubungkan Desa Suka Damai, Kecamatan Lembah Sabil, dengan Dusun Lhok Batee Intan, Desa Padang, Kecamatan Manggeng. Usulan tersebut telah diajukan ke Kementerian PUPR untuk memperkuat akses transportasi dan perekonomian masyarakat.

Mobil melintasi Sungai Krueng Manggeng akibat belum tersedianya jembatan permanen bagi warga/foto/ist

MANGGENG - Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Abdya, Rahwadi ST, Jumat (26/6/2026), mengatakan jembatan yang direncanakan memiliki panjang 60 meter itu disiapkan untuk menggantikan akses yang selama ini dinilai tidak lagi memadai bagi aktivitas warga.

Menurut Rahwadi, pembangunan jembatan permanen menjadi kebutuhan penting karena jalur tersebut menghubungkan kawasan permukiman dengan wilayah yang selama ini menjadi pusat aktivitas masyarakat dan distribusi hasil perkebunan.

"Semoga saja usulan pembangunan itu terwujud demi kelancaran akses mobilisasi warga," ujar Rahwadi.

Ia menjelaskan, usulan pembangunan tidak berhenti pada tahap perencanaan di pemerintah daerah. Dokumen telah disampaikan kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI agar memperoleh dukungan pembiayaan dari pemerintah pusat.

Rahwadi menyebut, perjuangan pemerintah daerah juga mendapat dukungan dari anggota Komisi V DPR RI, H. Danang WS dari Fraksi Partai Gerindra dan H. Ghufran MA dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kehadiran dua legislator tersebut diharapkan dapat membantu percepatan proses pembahasan hingga pengalokasian anggaran.

Usulan pembangunan jembatan permanen ini sekaligus menjawab harapan masyarakat Dusun Lhok Batee Intan yang selama bertahun-tahun menghadapi keterbatasan akses menuju wilayah mereka.

Sebelumnya, warga hanya memiliki satu jalur penghubung berupa jembatan gantung yang kondisinya telah menua. Infrastruktur tersebut hanya dapat digunakan pejalan kaki dan kendaraan roda dua, sementara kendaraan roda empat tidak memungkinkan melintas karena keterbatasan daya dukung konstruksi.

Akibatnya, mobil barang maupun kendaraan pengangkut hasil perkebunan harus menyeberangi aliran Krueng Manggeng secara langsung. Kondisi itu menjadi rutinitas yang penuh risiko, terutama ketika debit air meningkat.

Seorang warga mengaku setiap kali kendaraan memasuki badan sungai selalu dihantui rasa khawatir karena arus dapat berubah sewaktu-waktu.

"Setiap kali ban mobil masuk ke air, jantung kami rasanya mau copot. Kalau arus tiba-tiba deras, taruhannya adalah nyawa dan mobil hanyut. Tapi mau bagaimana lagi? Karena kita memang asli penghuni disini," ujarnya.

Kepala Desa Padang, Muttalimin, sebelumnya juga menyampaikan bahwa akses menuju Dusun Lhok Batee Intan menjadi persoalan yang terus dihadapi masyarakat, terutama saat musim hujan.

Menurutnya, curah hujan di wilayah hulu dapat menyebabkan debit Krueng Manggeng meningkat dalam waktu singkat sehingga kendaraan roda empat tidak lagi dapat menyeberang.

"Jika curah hujan tinggi di hulu, debit air sungai akan naik dan meluap seketika. Di saat itulah wilayah Lhok Batee Intan otomatis terisolasi untuk dilintasi kendaraan roda empat," ungkap Muttalimin.

Ia menjelaskan, saat kondisi tersebut terjadi, aktivitas masyarakat ikut terganggu. Warga menjadi lebih berhati-hati melintasi jembatan gantung, sedangkan kendaraan tidak dapat menyeberangi sungai. Apabila ada warga yang membutuhkan penanganan medis, proses evakuasi harus dilakukan menggunakan fasilitas yang tersedia di lokasi.

Muttalimin menambahkan, jalur menuju Dusun Lhok Batee Intan tidak hanya dimanfaatkan masyarakat setempat. Akses tersebut juga menjadi lintasan utama bagi petani dari berbagai wilayah yang mengangkut komoditas hasil perkebunan.

Berbagai hasil bumi seperti kopi, jengkol, durian, rambutan, serta komoditas lokal lainnya bergantung pada kelancaran jalur tersebut untuk dibawa keluar dari kawasan produksi.

Karena itu, masyarakat berharap pembangunan jembatan permanen dapat segera direalisasikan. Selain meningkatkan keselamatan pengguna jalan, keberadaan jembatan baru diyakini akan memperlancar distribusi hasil pertanian dan perkebunan serta mendukung pertumbuhan ekonomi di Kecamatan Manggeng.

Apabila usulan tersebut mendapat persetujuan pemerintah pusat, jembatan sepanjang 60 meter itu diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi persoalan akses yang selama ini dihadapi warga Dusun Lhok Batee Intan dan kawasan sekitarnya.
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Pemkab Abdya Usulkan Jembatan Permanen Rp15 Miliar untuk Lhok Batee Intan

Terkini

Iklan