Pimpinan Daerah (PD) 'Aisyiyah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menggelar Pengajian Akbar Milad ke-109 di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Blangpidie, Sabtu (13/6/2026), untuk memperkuat peran perempuan dalam membangun kehidupan damai di tengah berbagai tantangan sosial.
BLANGPIDIE - Kegiatan bertema "Perempuan Menebar Rahmat, Aceh Barat Daya Menguatkan Perdamaian" itu menghadirkan Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Prof. Dr. Casmini, S.Ag., M.Si., sebagai pemateri. Acara dipandu Rismanidar, mantan Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul 'Aisyiyah Abdya, dan diikuti ratusan peserta.
Dalam penyampaiannya, Casmini menegaskan pengajian menjadi fondasi utama gerakan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah. Karena itu, organisasi tersebut terus menguatkan Gerakan Perempuan Mengaji sebagai sarana memperkokoh nilai keislaman sekaligus nilai kemanusiaan.
"Ruh kita di Muhammadiyah dan 'Aisyiyah itu adalah pengajian. Karena itu di 'Aisyiyah dikenal Gerakan Perempuan Mengaji," kata Casmini.
Ia menjelaskan, arah dakwah Muhammadiyah dan 'Aisyiyah berpijak pada kandungan Al-Qur'an Surat Al-Anbiya ayat 107 yang menegaskan Rasulullah SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Menurutnya, prinsip tersebut menjadi landasan untuk memuliakan manusia, menjaga kehidupan, menegakkan keadilan, menyebarkan perdamaian, serta menghapus permusuhan.
Casmini juga menekankan bahwa perempuan mempunyai kontribusi besar dalam menciptakan suasana damai. Ia mengangkat kisah Ratu Bilqis dalam Surat An-Naml sebagai contoh pemimpin perempuan yang mengutamakan dialog sehingga mampu menghindarkan masyarakat dari konflik.
"Ratu Bilqis menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi arsitek perdamaian. Sejak masa lalu, perempuan memiliki kemampuan membangun dialog dan menghindarkan masyarakat dari perpecahan," ujarnya.
Selain itu, ia menilai dakwah saat ini mengalami perkembangan yang tidak lagi terbatas pada ceramah di mimbar maupun aktivitas di rumah ibadah. Dakwah, katanya, kini diwujudkan melalui berbagai aksi nyata yang memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat.
"Dakwah hari ini telah berevolusi dari mimbar ke aksi nyata. Menolong yang kesulitan, mendidik generasi, membela martabat manusia, hingga merawat lingkungan merupakan bagian dari dakwah," katanya.
Menutup tausiyahnya, Casmini mengingatkan bahwa pesan perdamaian semakin penting di tengah meningkatnya konflik keluarga, penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di media sosial, krisis keteladanan, menguatnya sikap individualisme, serta kegelisahan mental yang dialami sebagian generasi muda.
"Realitas hari ini menunjukkan bahwa perdamaian bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan yang mendesak," kata Casmini.
![]() |
| Pengajian Akbar Milad ke-109 'Aisyiyah Abdya di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Blangpidie/foto/ist |
BLANGPIDIE - Kegiatan bertema "Perempuan Menebar Rahmat, Aceh Barat Daya Menguatkan Perdamaian" itu menghadirkan Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Prof. Dr. Casmini, S.Ag., M.Si., sebagai pemateri. Acara dipandu Rismanidar, mantan Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul 'Aisyiyah Abdya, dan diikuti ratusan peserta.
Dalam penyampaiannya, Casmini menegaskan pengajian menjadi fondasi utama gerakan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah. Karena itu, organisasi tersebut terus menguatkan Gerakan Perempuan Mengaji sebagai sarana memperkokoh nilai keislaman sekaligus nilai kemanusiaan.
"Ruh kita di Muhammadiyah dan 'Aisyiyah itu adalah pengajian. Karena itu di 'Aisyiyah dikenal Gerakan Perempuan Mengaji," kata Casmini.
Ia menjelaskan, arah dakwah Muhammadiyah dan 'Aisyiyah berpijak pada kandungan Al-Qur'an Surat Al-Anbiya ayat 107 yang menegaskan Rasulullah SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Menurutnya, prinsip tersebut menjadi landasan untuk memuliakan manusia, menjaga kehidupan, menegakkan keadilan, menyebarkan perdamaian, serta menghapus permusuhan.
Casmini juga menekankan bahwa perempuan mempunyai kontribusi besar dalam menciptakan suasana damai. Ia mengangkat kisah Ratu Bilqis dalam Surat An-Naml sebagai contoh pemimpin perempuan yang mengutamakan dialog sehingga mampu menghindarkan masyarakat dari konflik.
"Ratu Bilqis menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi arsitek perdamaian. Sejak masa lalu, perempuan memiliki kemampuan membangun dialog dan menghindarkan masyarakat dari perpecahan," ujarnya.
Selain itu, ia menilai dakwah saat ini mengalami perkembangan yang tidak lagi terbatas pada ceramah di mimbar maupun aktivitas di rumah ibadah. Dakwah, katanya, kini diwujudkan melalui berbagai aksi nyata yang memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat.
"Dakwah hari ini telah berevolusi dari mimbar ke aksi nyata. Menolong yang kesulitan, mendidik generasi, membela martabat manusia, hingga merawat lingkungan merupakan bagian dari dakwah," katanya.
Menutup tausiyahnya, Casmini mengingatkan bahwa pesan perdamaian semakin penting di tengah meningkatnya konflik keluarga, penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di media sosial, krisis keteladanan, menguatnya sikap individualisme, serta kegelisahan mental yang dialami sebagian generasi muda.
"Realitas hari ini menunjukkan bahwa perdamaian bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan yang mendesak," kata Casmini.


