Haba Nanggroe

HABA NANGGROE
Memuat...

Iklan

terkini

Revolusi AI dan Pertanyaan Fundamental tentang Pendidikan Tinggi

Fitriadi
8/20/26, 14:21 WIB Last Updated 2026-08-20T07:21:47Z
Kehadiran Artificial Intelligence (AI) di lingkungan perguruan tinggi dalam beberapa tahun terakhir telah melahirkan kegelisahan yang semakin kuat. Mahasiswa kini memanfaatkan AI untuk menemukan ide, memahami konsep, merangkum berbagai literatur, menyusun kerangka tulisan, mengolah data, hingga membantu menyelesaikan beragam tugas akademik. Perkembangan tersebut tidak hanya mengubah cara mahasiswa belajar, tetapi juga mulai menguji pola pendidikan tinggi yang selama ini dianggap mapan.

Ahmad Syahyana, S.E., M.E.
Dosen Prodi S1 Manajemen, Universitas Ubudiyah Indonesia/foto/ist

OPINI - Sebagian perguruan tinggi merespons perkembangan itu dengan menerapkan larangan, pembatasan, pengawasan, hingga penggunaan perangkat pendeteksi tulisan yang diduga dihasilkan AI. Kekhawatiran tersebut tentu memiliki alasan yang dapat dipahami, terutama terkait integritas akademik dan potensi munculnya ketergantungan mahasiswa terhadap teknologi. Namun, di balik kekhawatiran itu terdapat pertanyaan yang jauh lebih mendasar: mengapa kehadiran AI begitu mudah mengguncang fondasi pendidikan tinggi?

Apakah karena AI memang terlalu cerdas, atau justru karena sebagian praktik pendidikan tinggi selama ini terlalu mudah direduksi menjadi pekerjaan yang dapat dilakukan oleh mesin?

Pertanyaan tersebut membawa kita pada persoalan yang lebih fundamental mengenai hakikat pendidikan. AI mungkin bukan sedang membunuh pendidikan tinggi, tetapi justru sedang memperlihatkan kelemahan dan kepalsuan dari sebagian praktik pendidikan yang selama ini kita anggap sebagai proses belajar.

Selama pendidikan dipahami sekadar sebagai proses memindahkan informasi dari dosen kepada mahasiswa, maka AI memang terlihat sebagai ancaman yang sangat besar. Mesin mampu menemukan informasi dalam waktu singkat, menyusun ringkasan, membandingkan perspektif, menghasilkan tulisan, bahkan membantu mengolah persoalan yang kompleks.

Dalam hal kecepatan dan efisiensi pengolahan informasi, manusia memang sulit berkompetisi dengan mesin. Namun, pendidikan seharusnya tidak berhenti pada kemampuan memperoleh informasi. Pendidikan merupakan proses membentuk manusia agar mampu memahami, mempertanyakan, mengalami, menilai, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan pengetahuan yang dimilikinya. Ketika dimensi tersebut diabaikan, pendidikan berisiko berubah menjadi sekadar produksi informasi yang memperoleh legitimasi akademik.

Lebih dari satu abad lalu, filsuf pendidikan Amerika Serikat, John Dewey, melalui My Pedagogic Creed (1897), telah menegaskan bahwa pendidikan pada hakikatnya merupakan proses partisipasi individu dalam kehidupan sosial. Pendidikan menurut Dewey bukan sekadar aktivitas memasukkan pengetahuan ke dalam pikiran peserta didik, melainkan proses pertumbuhan yang berlangsung melalui pengalaman, interaksi, kebiasaan, refleksi, dan keterlibatan dalam kehidupan masyarakat.

Pandangan tersebut menjadi semakin relevan ketika AI mulai mengambil alih sebagian pekerjaan kognitif manusia. Jika pendidikan hanya bertujuan menghasilkan manusia yang mampu menemukan dan mengolah informasi, maka mesin akan menjadi kompetitor yang sangat kuat.

Sebaliknya, jika pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia yang mampu memahami konteks, membaca realitas, menguji kebenaran, memperhitungkan konsekuensi, serta mengambil keputusan secara etis, maka AI tidak otomatis menggantikan fungsi pendidikan. Justru pada titik inilah AI memberikan kesempatan kepada perguruan tinggi untuk kembali mempertanyakan tujuan paling mendasar dari keberadaannya.

Ketika Tugas Dianggap Sama dengan Belajar

Selama bertahun-tahun, pendidikan tinggi sangat bergantung pada tugas sebagai salah satu instrumen pembelajaran sekaligus evaluasi. Mahasiswa diberikan makalah, esai, rangkuman, laporan, presentasi, studi kasus, maupun pertanyaan tertentu untuk dijawab, kemudian hasil pekerjaan tersebut dinilai oleh dosen.

Pola tersebut berlangsung berulang kali hingga menjadi rutinitas dalam kehidupan akademik. Namun, sesuatu yang rutin tidak selalu identik dengan sesuatu yang benar-benar pedagogis. Seorang mahasiswa dapat menghasilkan makalah belasan halaman tanpa memahami secara mendalam substansi yang ditulisnya.

Mahasiswa juga dapat menghafalkan materi menjelang ujian, memperoleh nilai tinggi, lalu melupakan sebagian besar materi tersebut beberapa hari setelah ujian selesai. Bahkan, seseorang dapat menghasilkan tulisan dengan struktur akademik yang sangat rapi, tetapi kesulitan mempertahankan argumentasinya ketika harus menjelaskannya secara langsung.

Dalam kondisi demikian, pertanyaan pentingnya bukan sekadar apakah mahasiswa mengerjakan tugas, melainkan apakah proses pendidikan benar-benar membuat mahasiswa berpikir?

Kehadiran AI membuat persoalan tersebut semakin terbuka. Ketika sebuah tugas yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam dapat diselesaikan dengan bantuan AI dalam hitungan detik, kecenderungan pertama adalah menyalahkan mahasiswa karena menggunakan teknologi.

Padahal, kritik yang lebih mendalam seharusnya diarahkan kepada desain pembelajaran itu sendiri. Jika sebuah tugas dapat direduksi menjadi instruksi sederhana seperti “buatlah makalah tentang X”, kemudian AI mampu menghasilkan jawaban yang terlihat akademis, maka persoalannya tidak semata-mata terletak pada perilaku mahasiswa.

Bisa jadi, sejak awal tugas tersebut memang terlalu berorientasi pada produk akhir dan belum cukup memberi ruang terhadap proses berpikir.

AI tidak menciptakan budaya belajar yang dangkal. AI justru membuat kedangkalan yang sudah ada menjadi semakin mudah terlihat. Teknologi ini bekerja seperti cermin yang memperlihatkan kelemahan sistem evaluasi yang selama ini mungkin dianggap sudah memadai.

Ketika AI Mampu Menulis Makalah, Apa yang Sesungguhnya Kita Nilai?

Kekhawatiran terhadap penggunaan AI dalam penulisan akademik tentu tidak boleh diabaikan. Mahasiswa yang menyerahkan seluruh proses berpikirnya kepada mesin pada dasarnya kehilangan sebagian besar kesempatan untuk mengalami proses belajar itu sendiri.

Pendidikan akan kehilangan maknanya apabila mahasiswa hanya berperan sebagai operator yang memberikan instruksi kepada AI, kemudian menyerahkan hasilnya kepada dosen tanpa memahami isi, proses, maupun argumentasi di dalamnya. Namun, persoalan integritas akademik juga tidak akan selesai hanya melalui larangan penggunaan AI.

Larangan mungkin mampu membatasi perilaku tertentu dalam jangka pendek, tetapi belum tentu menyelesaikan alasan utama mahasiswa menggunakan AI. Jika tugas yang diberikan hanya berupa “buatlah makalah tentang pengaruh digitalisasi terhadap perekonomian”, misalnya, maka pertanyaan yang lebih penting adalah: kemampuan apa yang sebenarnya hendak diuji?

Apakah kemampuan mencari informasi, menulis, menyusun kalimat, mengikuti format akademik, atau benar-benar kemampuan berpikir kritis?

AI justru memaksa perguruan tinggi untuk mengevaluasi kembali desain penilaian. Mahasiswa tidak cukup hanya diminta menghasilkan makalah, tetapi juga harus mampu mempertanggungjawabkan gagasan yang terdapat di dalamnya.

Mereka perlu mampu menjelaskan alasan memilih teori tertentu, bagaimana data diperoleh dan diverifikasi, mengapa metode tertentu digunakan, apa dasar kesimpulan yang dibuat, serta apa keterbatasan dari argumentasi yang dibangun.

Dosen dapat meminta mahasiswa mempresentasikan proses berpikirnya, mempertahankan argumentasi melalui diskusi, melakukan kritik terhadap tulisannya sendiri, atau menghubungkan teori dengan persoalan nyata di lapangan. Melalui pendekatan tersebut, AI tidak harus ditempatkan sebagai musuh, tetapi sebagai bagian dari lingkungan belajar yang harus digunakan secara kritis dan bertanggung jawab.

Pendidikan tinggi tidak semata membutuhkan mekanisme yang mampu mendeteksi penggunaan AI. Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem evaluasi yang menjadikan proses berpikir manusia sebagai pusat penilaian.

Dari Produk Akademik Menuju Proses Berpikir

Era AI seharusnya menjadi momentum bagi perguruan tinggi untuk menggeser orientasi pembelajaran dari sekadar menghasilkan produk akademik menuju penguatan proses berpikir. Mahasiswa tidak semestinya hanya dinilai dari panjang pendeknya makalah, tetapi dari kualitas argumentasi yang mampu mereka bangun.

Mereka juga tidak cukup dinilai dari seberapa banyak teori yang dapat dihafalkan, tetapi dari kemampuan memahami batasan teori tersebut ketika berhadapan dengan realitas. Mahasiswa bukan hanya perlu menghasilkan jawaban, tetapi juga harus mampu menjelaskan bagaimana jawaban tersebut diperoleh serta apa konsekuensi ketika jawaban itu digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Karena itu, evaluasi akademik perlu bergerak dari sekadar assessment of output menuju assessment of reasoning. Pergeseran ini bukan hanya respons terhadap perkembangan teknologi, tetapi juga merupakan upaya mengembalikan pendidikan kepada fungsi dasarnya sebagai proses pembentukan manusia.

Dalam perspektif tersebut, AI justru dapat menjadi katalisator perubahan pendidikan tinggi. Teknologi ini mendorong dosen meninggalkan pola pembelajaran yang terlalu mudah diprediksi dan mendorong mahasiswa keluar dari kebiasaan belajar yang hanya berorientasi pada nilai.

Dosen perlu merancang pertanyaan yang lebih kontekstual, tugas yang lebih reflektif, serta evaluasi yang menuntut argumentasi personal. Mahasiswa pun dituntut tidak hanya mencari jawaban, tetapi memahami alasan yang mendasari jawaban tersebut.

Perguruan tinggi juga perlu membangun budaya akademik yang tidak memandang teknologi semata-mata sebagai sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sebagai instrumen yang harus digunakan secara kritis dan bertanggung jawab.

Semakin mudah mesin menghasilkan jawaban, semakin tinggi tuntutan manusia untuk memahami, memverifikasi, dan mempertanggungjawabkan jawaban tersebut.

AI dan Pergeseran Peran Dosen

Kehadiran AI juga mendorong perguruan tinggi untuk mendefinisikan kembali posisi dan fungsi dosen. Selama ini, sebagian proses pendidikan masih menempatkan dosen sebagai sumber utama pengetahuan.

Dosen menyampaikan materi, mahasiswa menerima dan mencatat, kemudian mahasiswa diuji berdasarkan materi yang telah disampaikan. Pola seperti ini semakin kehilangan relevansinya ketika mahasiswa dapat memperoleh penjelasan mengenai berbagai konsep melalui perangkat digital.

Dalam situasi tersebut, otoritas akademik dosen tidak lagi cukup dibangun melalui kemampuan menyampaikan informasi. Dosen tidak lagi sekadar menjadi sumber jawaban, tetapi harus berkembang menjadi pengarah proses berpikir.

Peran dosen justru menjadi semakin penting ketika informasi tersedia dalam jumlah yang sangat besar. Persoalan utama bukan lagi bagaimana memperoleh informasi, tetapi bagaimana menilai kualitas, relevansi, bias, serta konsekuensi dari informasi tersebut.

Dosen masa depan harus mampu mengajukan pertanyaan yang tidak mudah diselesaikan secara otomatis oleh mesin. Ia harus mampu mengajak mahasiswa menghubungkan teori dengan pengalaman, data dengan realitas, serta pengetahuan dengan persoalan etika.

Dosen harus menjadi fasilitator dialog intelektual yang mendorong mahasiswa mempertanyakan asumsi, menguji argumentasi, dan berani mengakui keterbatasan pengetahuannya.

Dalam konteks tersebut, AI bahkan dapat membebaskan dosen dari sebagian pekerjaan administratif dan repetitif sehingga energi akademik dapat lebih banyak diarahkan pada fungsi yang lebih substantif: membimbing, mengkritisi, mendampingi, dan membentuk cara berpikir mahasiswa.

Semakin cerdas AI menghasilkan jawaban, semakin penting dosen yang mampu mengajarkan bagaimana membedakan antara jawaban yang benar, jawaban yang keliru, dan jawaban yang hanya tampak benar.

Pendidikan Tinggi Harus Mengajarkan Sesuatu yang Tidak Mudah Digantikan Mesin

AI dapat menghasilkan tulisan, tetapi AI tidak menjalani pengalaman sosial yang menjadi objek kajian manusia. AI mampu memberikan rekomendasi, tetapi tidak menanggung konsekuensi moral dari keputusan yang dibuat berdasarkan rekomendasi tersebut.

AI dapat menyusun argumentasi, tetapi tanggung jawab terhadap penggunaan argumentasi itu tetap berada pada manusia. AI mampu membantu memecahkan persoalan, tetapi manusia tetap harus menentukan apakah solusi tersebut adil, layak, etis, dan sesuai dengan kondisi masyarakat.

Di sinilah terdapat perbedaan mendasar antara kemampuan komputasional dan pendidikan manusia. Perguruan tinggi tidak seharusnya berusaha mengalahkan mesin pada wilayah yang memang menjadi keunggulan mesin.

Jika universitas hanya menawarkan informasi, hafalan, rangkuman, dan kemampuan menghasilkan teks, maka AI memang akan menjadi pesaing yang sangat sulit dihadapi.

Sebaliknya, perguruan tinggi harus memperkuat wilayah yang membuat manusia tetap memiliki relevansi. Pendidikan harus membentuk manusia dengan nalar kritis, integritas, kreativitas, empati, kemampuan mengambil keputusan, kesadaran sosial, dan keberanian mempertanggungjawabkan tindakannya.

Kemampuan tersebut tidak dapat dinilai hanya berdasarkan jumlah halaman makalah atau skor ujian pilihan ganda. Ia berkembang melalui pengalaman, dialog, perdebatan, kegagalan, refleksi, kolaborasi, serta keterlibatan langsung dengan persoalan nyata.

Karena itu, AI seharusnya tidak membuat pendidikan semakin miskin interaksi manusia. Sebaliknya, semakin banyak pekerjaan kognitif yang dapat dilakukan mesin, semakin besar kebutuhan pendidikan untuk memperkuat dimensi manusiawi yang tidak dapat direduksi menjadi algoritma.

AI Bukan Musuh Pendidikan Tinggi

Pada akhirnya, mungkin kita terlalu sibuk memperdebatkan apakah AI akan menggantikan mahasiswa, dosen, atau bahkan perguruan tinggi. Kita sibuk membuat larangan, mencari perangkat pendeteksi AI, dan membangun mekanisme pengawasan, sementara pertanyaan yang lebih mendasar justru belum memperoleh perhatian yang cukup.

Apakah pendidikan tinggi masih mampu memberikan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh mesin?

Jika jawabannya hanya informasi, rangkuman, tulisan, dan jawaban atas berbagai pertanyaan, maka kekhawatiran terhadap AI memang memiliki dasar yang kuat.

Namun, jika pendidikan tinggi mampu membentuk manusia yang kritis, reflektif, beretika, kreatif, mampu memahami kompleksitas realitas sosial, serta berani mengambil keputusan dan mempertanggungjawabkannya, maka AI tidak harus menjadi ancaman.

Sebaliknya, AI dapat menjadi instrumen yang memperkuat kapasitas manusia.

Karena itu, AI bukanlah pembunuh pendidikan tinggi. AI adalah cermin. Ia memperlihatkan kepada kita mana pendidikan yang benar-benar membentuk manusia dan mana pendidikan yang selama ini hanya menghasilkan tugas, nilai, sertifikat, dan gelar.

AI membuat kita tidak lagi mudah bersembunyi di balik rutinitas akademik. Ia memaksa dosen bertanya apakah tugas yang diberikan benar-benar mendidik. Ia memaksa mahasiswa mempertanyakan apakah nilai yang diperoleh benar-benar mencerminkan kemampuan. Dan ia memaksa institusi bertanya apakah gelar yang diberikan benar-benar merepresentasikan kompetensi.

Dalam pengertian tertentu, AI bukan sekadar krisis bagi pendidikan tinggi. AI adalah ujian terhadap legitimasi pendidikan tinggi itu sendiri.

Maka, persoalan terbesar pendidikan tinggi di era AI bukanlah ketika mesin menjadi semakin pintar. Persoalan yang jauh lebih serius adalah ketika manusia justru semakin kehilangan dorongan untuk berpikir.

Kita tidak perlu semata-mata khawatir karena mesin mampu menghasilkan jawaban dalam hitungan detik. Yang jauh lebih mengkhawatirkan adalah ketika mahasiswa tidak lagi merasa perlu memahami jawaban tersebut, ketika dosen berhenti mengembangkan cara mengajar, dan ketika perguruan tinggi merasa cukup hanya dengan menghasilkan lulusan yang memiliki transkrip nilai dan selembar ijazah.

Jika mesin semakin mampu melakukan pekerjaan berpikir sementara manusia semakin malas menggunakan pikirannya, maka persoalannya bukan lagi sekadar mengenai masa depan AI.

Persoalannya adalah Masa Depan Manusia.

Dan pada titik itulah kita harus berani mengakui: bukan AI yang membunuh pendidikan tinggi, melainkan pendidikan tinggi yang gagal mempertahankan makna pendidikannya sendiri.

Oleh: Ahmad Syahyana, S.E., M.E.
Dosen Prodi S1 Manajemen, Universitas Ubudiyah Indonesia
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Revolusi AI dan Pertanyaan Fundamental tentang Pendidikan Tinggi

Terkini

Iklan Advertica