Pengerukan kolam labuh Ujung Serangga, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), terancam terhenti akibat keterbatasan dana. Nelayan setempat berharap bantuan pribadi anggota DPRK Abdya agar pekerjaan yang dibiayai secara swadaya itu dapat berlanjut.
SUSOH - Ketua Kelompok Masyarakat Nelayan Ujung Serangga, Safrizal, mengatakan pengerukan telah berjalan selama enam hari. Namun, pekerjaan tersebut masih membutuhkan tambahan biaya agar durasi penggunaan ekskavator bisa diperpanjang.
Menurut Safrizal, pengerukan idealnya berlangsung selama 25 hari untuk memperoleh hasil yang lebih maksimal. Sementara itu, dana swadaya yang tersedia belum mencukupi kebutuhan pekerjaan.
Ia berharap setiap anggota DPRK Abdya bersedia menyumbangkan Rp 1 juta untuk membantu kelanjutan pengerukan. Jika seluruh 25 anggota memberikan bantuan sesuai harapan tersebut, dana yang terkumpul diperkirakan mencapai Rp 25 juta.
“Andaikan setiap anggota DPRK Abdya mau membantu kami Rp 1 juta saja, maka kami akan terbantu Rp 25 juta dan tentunya bisa menambah durasi kerja ekskavator untuk lima atau enam hari,” kata Safrizal saat ditemui di Pelabuhan Ujung Serangga, Susoh, Jumat (16/10/2026).
Safrizal juga meminta ketua partai politik di tingkat Kabupaten dan Provinsi mendorong kader mereka yang duduk di lembaga legislatif untuk ikut membantu. Ia turut mengharapkan dukungan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari daerah pemilihan 9, khususnya dua anggota yang sedang menjabat.
Bagi kelompok nelayan, bantuan dalam jumlah kecil sekalipun tetap berarti untuk menambah biaya pengerukan. Safrizal membuka kesempatan kepada masyarakat dan para dermawan yang ingin menyalurkan bantuan langsung di lokasi pekerjaan.
“Untuk saat ini, bagi kami Rp 50 ribu sangat berharga,” ujarnya.
Di tengah upaya menghimpun dana, Panglima Laot Abdya, T. Indra Kusuma alias Achek Muntir, menyatakan kesediaannya menyumbangkan gaji selama lima bulan untuk mendukung pengerukan tersebut.
Dengan gaji Rp 400 ribu per bulan, sumbangan yang dijanjikannya mencapai Rp 2 juta. Achek juga mengapresiasi semangat gotong royong nelayan yang berupaya mengatasi pendangkalan kolam labuh melalui dana swadaya.
Ia berharap bantuan dari berbagai pihak terus bertambah sehingga pengerukan dapat mencapai target dan kolam labuh kembali berfungsi untuk mendukung kegiatan melaut.
“Kalau kolam labuh ini sudah bisa difungsikan maka manfaatnya juga untuk para nelayan yang ada di Ujung Serangga,” kata Achek Muntir.
![]() |
| Nelayan bergotong royong mengupayakan pengerukan kolam labuh Ujung Serangga di Kecamatan Susoh, Abdya/foto/ist |
SUSOH - Ketua Kelompok Masyarakat Nelayan Ujung Serangga, Safrizal, mengatakan pengerukan telah berjalan selama enam hari. Namun, pekerjaan tersebut masih membutuhkan tambahan biaya agar durasi penggunaan ekskavator bisa diperpanjang.
Menurut Safrizal, pengerukan idealnya berlangsung selama 25 hari untuk memperoleh hasil yang lebih maksimal. Sementara itu, dana swadaya yang tersedia belum mencukupi kebutuhan pekerjaan.
Ia berharap setiap anggota DPRK Abdya bersedia menyumbangkan Rp 1 juta untuk membantu kelanjutan pengerukan. Jika seluruh 25 anggota memberikan bantuan sesuai harapan tersebut, dana yang terkumpul diperkirakan mencapai Rp 25 juta.
“Andaikan setiap anggota DPRK Abdya mau membantu kami Rp 1 juta saja, maka kami akan terbantu Rp 25 juta dan tentunya bisa menambah durasi kerja ekskavator untuk lima atau enam hari,” kata Safrizal saat ditemui di Pelabuhan Ujung Serangga, Susoh, Jumat (16/10/2026).
Safrizal juga meminta ketua partai politik di tingkat Kabupaten dan Provinsi mendorong kader mereka yang duduk di lembaga legislatif untuk ikut membantu. Ia turut mengharapkan dukungan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari daerah pemilihan 9, khususnya dua anggota yang sedang menjabat.
Bagi kelompok nelayan, bantuan dalam jumlah kecil sekalipun tetap berarti untuk menambah biaya pengerukan. Safrizal membuka kesempatan kepada masyarakat dan para dermawan yang ingin menyalurkan bantuan langsung di lokasi pekerjaan.
“Untuk saat ini, bagi kami Rp 50 ribu sangat berharga,” ujarnya.
Di tengah upaya menghimpun dana, Panglima Laot Abdya, T. Indra Kusuma alias Achek Muntir, menyatakan kesediaannya menyumbangkan gaji selama lima bulan untuk mendukung pengerukan tersebut.
Dengan gaji Rp 400 ribu per bulan, sumbangan yang dijanjikannya mencapai Rp 2 juta. Achek juga mengapresiasi semangat gotong royong nelayan yang berupaya mengatasi pendangkalan kolam labuh melalui dana swadaya.
Ia berharap bantuan dari berbagai pihak terus bertambah sehingga pengerukan dapat mencapai target dan kolam labuh kembali berfungsi untuk mendukung kegiatan melaut.
“Kalau kolam labuh ini sudah bisa difungsikan maka manfaatnya juga untuk para nelayan yang ada di Ujung Serangga,” kata Achek Muntir.

.png)


.jpg)
