PT Pembangunan Aceh (Perseroda) atau PT PEMA menyambut langkah Pemerintah Aceh mendorong percepatan realisasi jalur pelayaran Krueng Geukueh–Penang. Perusahaan daerah itu menyatakan kesiapan menjalankan penugasan dengan memperhatikan tata kelola, kelayakan usaha, dan regulasi.
BANDA ACEH - Direktur Utama PT PEMA, Faisal Ilyas, mengatakan rencana tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyediaan alternatif transportasi antara Aceh dan Malaysia. Menurutnya, konektivitas laut itu juga berpotensi memperkuat hubungan ekonomi kedua wilayah.
“Konektivitas Krueng Geukueh–Penang merupakan upaya menghadirkan akses langsung antara Aceh dan Malaysia yang dapat mendukung mobilitas masyarakat sekaligus memperkuat hubungan perdagangan, logistik, dan pariwisata kedua wilayah,” kata Faisal.
Saat ini, kata Faisal, PT PEMA tengah mempersiapkan serta mematangkan kajian proyek secara menyeluruh. Kajian tersebut diperlukan untuk memastikan rencana pelayaran memiliki dasar perencanaan yang kuat sebelum masuk tahap pelaksanaan.
“Mencakup aspek pasar, teknis, operasional, finansial, regulasi, kebutuhan armada, hingga kemungkinan skema kerja sama dengan operator pelayaran maupun mitra strategis lainnya,” katanya.
Selain itu, kajian mencakup proyeksi jumlah penumpang dan muatan, kesiapan armada serta pelabuhan, struktur biaya, pola kerja sama, hingga ketentuan regulasi yang berkaitan dengan operasional jalur pelayaran.
Faisal menyebut potensi rute Krueng Geukueh–Penang cukup menjanjikan. Namun, peluang tersebut tetap harus diikuti perencanaan yang matang dan terukur agar layanan yang dibangun memiliki model usaha yang sesuai.
“Dari kajian awal yang kami lakukan, rute ini memiliki potensi yang cukup besar. Namun seluruh aspek harus dipersiapkan secara prudent,” kata Faisal.
Menurut dia, kehati-hatian dalam mempersiapkan proyek menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan layanan setelah jalur tersebut beroperasi. PT PEMA ingin memastikan kegiatan pelayaran dapat berjalan sesuai kebutuhan dan memiliki prospek jangka panjang.
“Kami ingin memastikan bahwa ketika layanan ini dijalankan dapat berjalan secara efektif, optimal, dan berkelanjutan,” kata Faisal.
Dalam proses persiapan itu, PT PEMA juga terus melakukan koordinasi dengan Pemerintah Aceh dan pemangku kepentingan terkait. Koordinasi tersebut mencakup penyusunan landasan regulasi, model penugasan, dukungan kebijakan, serta kebutuhan operasional.
PT PEMA berharap konektivitas Krueng Geukueh–Penang nantinya memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi Aceh. Keberadaan akses langsung menuju Penang dinilai dapat mendukung mobilitas sekaligus membuka peluang bagi perdagangan, logistik, dan sektor pariwisata.
“Selain mempermudah akses masyarakat, jalur tersebut diharapkan mampu memperpendek rantai logistik dan membuka akses pasar yang lebih luas bagi berbagai komoditas serta produk unggulan Aceh,” katanya.
Dengan demikian, percepatan realisasi jalur tersebut masih berjalan melalui proses pematangan kajian dan koordinasi. PT PEMA menempatkan aspek kelayakan, regulasi, serta keberlanjutan sebagai bagian utama sebelum layanan pelayaran Krueng Geukueh–Penang dijalankan.
![]() |
| Direktur Utama PT PEMA Faisal Ilyas menyampaikan kesiapan perusahaan/foto/ist |
BANDA ACEH - Direktur Utama PT PEMA, Faisal Ilyas, mengatakan rencana tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyediaan alternatif transportasi antara Aceh dan Malaysia. Menurutnya, konektivitas laut itu juga berpotensi memperkuat hubungan ekonomi kedua wilayah.
“Konektivitas Krueng Geukueh–Penang merupakan upaya menghadirkan akses langsung antara Aceh dan Malaysia yang dapat mendukung mobilitas masyarakat sekaligus memperkuat hubungan perdagangan, logistik, dan pariwisata kedua wilayah,” kata Faisal.
Saat ini, kata Faisal, PT PEMA tengah mempersiapkan serta mematangkan kajian proyek secara menyeluruh. Kajian tersebut diperlukan untuk memastikan rencana pelayaran memiliki dasar perencanaan yang kuat sebelum masuk tahap pelaksanaan.
“Mencakup aspek pasar, teknis, operasional, finansial, regulasi, kebutuhan armada, hingga kemungkinan skema kerja sama dengan operator pelayaran maupun mitra strategis lainnya,” katanya.
Selain itu, kajian mencakup proyeksi jumlah penumpang dan muatan, kesiapan armada serta pelabuhan, struktur biaya, pola kerja sama, hingga ketentuan regulasi yang berkaitan dengan operasional jalur pelayaran.
Faisal menyebut potensi rute Krueng Geukueh–Penang cukup menjanjikan. Namun, peluang tersebut tetap harus diikuti perencanaan yang matang dan terukur agar layanan yang dibangun memiliki model usaha yang sesuai.
“Dari kajian awal yang kami lakukan, rute ini memiliki potensi yang cukup besar. Namun seluruh aspek harus dipersiapkan secara prudent,” kata Faisal.
Menurut dia, kehati-hatian dalam mempersiapkan proyek menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan layanan setelah jalur tersebut beroperasi. PT PEMA ingin memastikan kegiatan pelayaran dapat berjalan sesuai kebutuhan dan memiliki prospek jangka panjang.
“Kami ingin memastikan bahwa ketika layanan ini dijalankan dapat berjalan secara efektif, optimal, dan berkelanjutan,” kata Faisal.
Dalam proses persiapan itu, PT PEMA juga terus melakukan koordinasi dengan Pemerintah Aceh dan pemangku kepentingan terkait. Koordinasi tersebut mencakup penyusunan landasan regulasi, model penugasan, dukungan kebijakan, serta kebutuhan operasional.
PT PEMA berharap konektivitas Krueng Geukueh–Penang nantinya memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi Aceh. Keberadaan akses langsung menuju Penang dinilai dapat mendukung mobilitas sekaligus membuka peluang bagi perdagangan, logistik, dan sektor pariwisata.
“Selain mempermudah akses masyarakat, jalur tersebut diharapkan mampu memperpendek rantai logistik dan membuka akses pasar yang lebih luas bagi berbagai komoditas serta produk unggulan Aceh,” katanya.
Dengan demikian, percepatan realisasi jalur tersebut masih berjalan melalui proses pematangan kajian dan koordinasi. PT PEMA menempatkan aspek kelayakan, regulasi, serta keberlanjutan sebagai bagian utama sebelum layanan pelayaran Krueng Geukueh–Penang dijalankan.

.png)



