Delegasi Daughters for Earth bersama Yayasan HAKa mengunjungi Lhok Batee Intan, Manggeng, Abdya, Senin (7/9/2026), untuk melihat langsung kondisi hutan Leuser dan praktik konservasi berbasis masyarakat, termasuk peran perempuan dalam menjaga kelestarian lingkungan.
MANGGENG - Tiga delegasi asing dari inisiatif global Daughters for Earth menjelajahi kawasan Lhok Batee Intan, Desa Padang, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Senin (7/9/2026) siang.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari safari lingkungan yang digelar Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAKa) bersama Daughters for Earth di sejumlah kawasan strategis Aceh pada 4–9 September 2026.
Tiga delegasi itu yakni Zainab T Salbi dari Amerika Serikat serta Manuela Mattalana Hoyos dan Carolina Garcia Arbelaez dari Kolombia.
Di Lhok Batee Intan, rombongan berjalan kaki menyusuri kawasan pinggiran ekosistem Gunung Leuser untuk melihat kondisi tutupan hutan sekaligus berdiskusi mengenai pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Lokasi tersebut merupakan salah satu gerbang penting Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di wilayah Abdya. Kehadiran delegasi internasional juga mempertemukan pegiat lingkungan, lembaga Desa, serta unsur pemerintah setempat.
Rombongan didampingi Ketua DPRK Abdya Roni Guswandi, Camat Manggeng Ridhawiyardi, Keuchik Padang Muttalimin, pemerhati lingkungan KSM Bineh Rimba TM Daud Yuska, serta Ketua Lembaga Pengelola Hutan Gampong (LPHG) Lhok Batee Intan Ridhiya Asmadi bersama pengurus lembaga Desa.
Ketua DPRK Abdya Roni Guswandi mengapresiasi perhatian pegiat lingkungan internasional terhadap potensi alam sekaligus upaya masyarakat dalam menjaga kawasan hutan.
"Kedatangan delegasi Daughters for Earth dan Yayasan HAKa ini menjadi motivasi besar bagi kami di pemerintah daerah. Ekosistem Leuser di Lhok Batee Intan adalah aset berharga yang harus dijaga bersama. Kami di legislatif siap mendukung regulasi serta alokasi kebijakan yang berpihak pada pelestarian hutan berbasis masyarakat," ujar Roni Guswandi.
Camat Manggeng Ridhawiyardi menyebut kunjungan tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap upaya masyarakat setempat dalam mempertahankan kelestarian hutan.
"Kami sangat bangga kawasan Lhok Batee Intan di Kecamatan Manggeng menjadi salah satu titik fokus kunjungan global ini. Kehadiran para tamu internasional ini membuktikan bahwa dedikasi warga kami dalam menjaga hutan diakui hingga tingkat dunia. Kami siap bersinergi agar program perlindungan alam ini berjalan selaras dengan kesejahteraan masyarakat," ungkap Ridhawiyardi.
Sementara Keuchik Gampong Padang Muttalimin menyatakan masyarakat, termasuk lembaga Desa, siap melanjutkan upaya menjaga bentang alam Leuser.
"Sebagai pimpinan Desa, saya menyambut baik kunjungan ini. Warga Gampong Padang, khususnya lembaga Desa seperti LPHG, selama ini terus berupaya menjaga bentang alam Leuser agar tetap lestari. Harapan kami, kolaborasi ini membawa dampak positif, baik untuk kelestarian hutan maupun kemajuan ekonomi masyarakat Desa," kata Muttalimin.
Pemerhati lingkungan KSM Bineh Rimba, TM Daud Yuska, mengatakan pihak donor berjanji tetap memberikan dukungan dalam berbagai hal untuk menjaga kelestarian hutan di kawasan hulu Kecamatan Manggeng.
Executive Director Yayasan HAKa Farwiza Farhan mengatakan kunjungan tersebut diarahkan untuk mengenal sekaligus memperkuat jaringan perlindungan hutan yang digerakkan masyarakat, terutama keterlibatan perempuan penjaga hutan atau women rangers.
"Kunjungan ini merupakan bagian dari kegiatan untuk mengenal secara langsung praktik konservasi hutan berbasis masyarakat serta peran penting perempuan dalam perlindungan lingkungan di Aceh," ungkap Farwiza dalam keterangannya.
Setelah mengunjungi Lhok Batee Intan, rangkaian kegiatan selama enam hari tersebut juga berlangsung di Takengon/Mendale, Aceh Tengah. Di sana, delegasi diajak melihat aksi dan perjuangan women rangers dalam menjaga kawasan hutan pegunungan.
Agenda berikutnya berlangsung di Beutong, Kabupaten Nagan Raya, berupa pertemuan dan diskusi bersama masyarakat mengenai pengelolaan lingkungan serta mitigasi ancaman kerusakan alam.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan agenda di Banda Aceh berupa diskusi refleksi dan evaluasi serta penyusunan strategi keberlanjutan bersama jajaran pengurus Yayasan HAKa.
Kunjungan tersebut mempertemukan jejaring pegiat lingkungan global, lembaga lokal, masyarakat dan unsur pemerintah daerah. Kolaborasi itu diarahkan untuk memperluas dukungan terhadap perlindungan Ekosistem Leuser, termasuk melalui penguatan peran komunitas dalam menjaga hutan.
![]() |
| Delegasi Daughters for Earth menyusuri kawasan hutan Leuser di Lhok Batee Intan, Manggeng/foto/ist |
MANGGENG - Tiga delegasi asing dari inisiatif global Daughters for Earth menjelajahi kawasan Lhok Batee Intan, Desa Padang, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Senin (7/9/2026) siang.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari safari lingkungan yang digelar Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAKa) bersama Daughters for Earth di sejumlah kawasan strategis Aceh pada 4–9 September 2026.
Tiga delegasi itu yakni Zainab T Salbi dari Amerika Serikat serta Manuela Mattalana Hoyos dan Carolina Garcia Arbelaez dari Kolombia.
Di Lhok Batee Intan, rombongan berjalan kaki menyusuri kawasan pinggiran ekosistem Gunung Leuser untuk melihat kondisi tutupan hutan sekaligus berdiskusi mengenai pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Lokasi tersebut merupakan salah satu gerbang penting Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di wilayah Abdya. Kehadiran delegasi internasional juga mempertemukan pegiat lingkungan, lembaga Desa, serta unsur pemerintah setempat.
Rombongan didampingi Ketua DPRK Abdya Roni Guswandi, Camat Manggeng Ridhawiyardi, Keuchik Padang Muttalimin, pemerhati lingkungan KSM Bineh Rimba TM Daud Yuska, serta Ketua Lembaga Pengelola Hutan Gampong (LPHG) Lhok Batee Intan Ridhiya Asmadi bersama pengurus lembaga Desa.
Ketua DPRK Abdya Roni Guswandi mengapresiasi perhatian pegiat lingkungan internasional terhadap potensi alam sekaligus upaya masyarakat dalam menjaga kawasan hutan.
"Kedatangan delegasi Daughters for Earth dan Yayasan HAKa ini menjadi motivasi besar bagi kami di pemerintah daerah. Ekosistem Leuser di Lhok Batee Intan adalah aset berharga yang harus dijaga bersama. Kami di legislatif siap mendukung regulasi serta alokasi kebijakan yang berpihak pada pelestarian hutan berbasis masyarakat," ujar Roni Guswandi.
Camat Manggeng Ridhawiyardi menyebut kunjungan tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap upaya masyarakat setempat dalam mempertahankan kelestarian hutan.
"Kami sangat bangga kawasan Lhok Batee Intan di Kecamatan Manggeng menjadi salah satu titik fokus kunjungan global ini. Kehadiran para tamu internasional ini membuktikan bahwa dedikasi warga kami dalam menjaga hutan diakui hingga tingkat dunia. Kami siap bersinergi agar program perlindungan alam ini berjalan selaras dengan kesejahteraan masyarakat," ungkap Ridhawiyardi.
Sementara Keuchik Gampong Padang Muttalimin menyatakan masyarakat, termasuk lembaga Desa, siap melanjutkan upaya menjaga bentang alam Leuser.
"Sebagai pimpinan Desa, saya menyambut baik kunjungan ini. Warga Gampong Padang, khususnya lembaga Desa seperti LPHG, selama ini terus berupaya menjaga bentang alam Leuser agar tetap lestari. Harapan kami, kolaborasi ini membawa dampak positif, baik untuk kelestarian hutan maupun kemajuan ekonomi masyarakat Desa," kata Muttalimin.
Pemerhati lingkungan KSM Bineh Rimba, TM Daud Yuska, mengatakan pihak donor berjanji tetap memberikan dukungan dalam berbagai hal untuk menjaga kelestarian hutan di kawasan hulu Kecamatan Manggeng.
Executive Director Yayasan HAKa Farwiza Farhan mengatakan kunjungan tersebut diarahkan untuk mengenal sekaligus memperkuat jaringan perlindungan hutan yang digerakkan masyarakat, terutama keterlibatan perempuan penjaga hutan atau women rangers.
"Kunjungan ini merupakan bagian dari kegiatan untuk mengenal secara langsung praktik konservasi hutan berbasis masyarakat serta peran penting perempuan dalam perlindungan lingkungan di Aceh," ungkap Farwiza dalam keterangannya.
Setelah mengunjungi Lhok Batee Intan, rangkaian kegiatan selama enam hari tersebut juga berlangsung di Takengon/Mendale, Aceh Tengah. Di sana, delegasi diajak melihat aksi dan perjuangan women rangers dalam menjaga kawasan hutan pegunungan.
Agenda berikutnya berlangsung di Beutong, Kabupaten Nagan Raya, berupa pertemuan dan diskusi bersama masyarakat mengenai pengelolaan lingkungan serta mitigasi ancaman kerusakan alam.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan agenda di Banda Aceh berupa diskusi refleksi dan evaluasi serta penyusunan strategi keberlanjutan bersama jajaran pengurus Yayasan HAKa.
Kunjungan tersebut mempertemukan jejaring pegiat lingkungan global, lembaga lokal, masyarakat dan unsur pemerintah daerah. Kolaborasi itu diarahkan untuk memperluas dukungan terhadap perlindungan Ekosistem Leuser, termasuk melalui penguatan peran komunitas dalam menjaga hutan.

.png)



