Camat Jeumpa, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Arie Warisman mengajak pemerintah Gampong menjadi orang tua asuh bagi anak yatim sebagai bentuk kepedulian sosial di tengah masyarakat.
JEUMPA - Hal itu disampaikan Arie dalam Rembuk Stunting tahun 2026 yang digelar Pemerintah Gampong Jeumpa Barat, Kecamatan Jeumpa, Abdya, untuk memperkuat komitmen bersama dalam mencegah dan menurunkan angka stunting melalui aksi lintas sektor.
Kegiatan bertema “Penguatan Komitmen Kebersamaan dan Aksi Konvergensi Lintas Sektor untuk Mewujudkan Generasi Sehat, Cerdas, dan Berkualitas menuju Indonesia Emas 2045” berlangsung di Kantor Keuchik Gampong Jeumpa Barat, Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Arie menyampaikan, Bupati Abdya telah menginstruksikan satu orang pejabat menjadi orang tua asuh bagi satu anak yatim. Ia berharap langkah tersebut dapat diikuti pemerintah Gampong sebagai wujud kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Selain persoalan sosial, Arie mengingatkan bahwa stunting tidak hanya berkaitan dengan asupan makanan. Kondisi lingkungan dan kebiasaan masyarakat juga dapat memengaruhi kesehatan serta tumbuh kembang anak.
Salah satu hal yang disorot adalah paparan asap rokok di lingkungan keluarga. Karena itu, kesadaran untuk menciptakan lingkungan rumah yang sehat perlu menjadi perhatian bersama dalam upaya mencegah stunting.
Ia juga mengajak masyarakat memiliki kepekaan terhadap warga yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari. Kepedulian dari lingkungan sekitar dinilai penting untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
“Kalau ada tetangga kita yang tidak bisa makan dalam satu hari, kita harus memiliki kepekaan sosial,” kata Arie.
Pejabat Kecamatan tersebut turut mendorong penguatan nilai keagamaan sebagai bagian dari membangun kepedulian dan tanggung jawab sosial masyarakat.
“Program peukong agama ini perlu kita galakkan kembali,” ujarnya.
Rembuk Stunting 2026 dihadiri unsur Forkopimcam Jeumpa, pendamping Desa, pendamping lokal Desa, perangkat Gampong, bidan Desa, kader Posyandu, PKK, serta tokoh masyarakat.
Pembahasan difokuskan pada data sasaran, faktor yang berpotensi menyebabkan stunting, serta langkah konkret yang dapat dilakukan bersama di tingkat Gampong.
Keuchik Gampong Jeumpa Barat, Taufiq, mengatakan penanganan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat. Pemerintah Gampong, menurutnya, tidak dapat bekerja sendiri dalam memastikan anak-anak tumbuh sehat dan terhindar dari stunting.
“Penanganan stunting ini membutuhkan kerja sama kita semua. Saya berharap angka stunting di Gampong Jeumpa Barat terus kita kurangi,” kata Taufiq.
Ia menyampaikan kondisi stunting di wilayahnya menunjukkan perkembangan positif dibandingkan tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah, angka stunting tahun sebelumnya di Gampong Jeumpa Barat ada penurunan,” ujarnya.
Taufiq berharap capaian tersebut menjadi dorongan bagi seluruh pihak untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan upaya pencegahan di tingkat keluarga dan Gampong.
Sementara itu, Kepala KUA Jeumpa Nazli Hasan menyampaikan bahwa pencegahan stunting harus dipahami sebagai tanggung jawab bersama yang dimulai sejak pembentukan keluarga.
“Kita semuanya memiliki tanggung jawab moral,” kata Nazli.
Menurutnya, calon pasangan perlu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai keluarga dan kesehatan sebelum memasuki kehidupan pernikahan. Pemahaman tersebut penting karena orang tua memiliki peran besar dalam menentukan tumbuh kembang anak.
“Dalam konteks stunting, kita harus mengetahui ilmu pengetahuan sebelum menikah. Sebab peran orang tua sangat penting untuk pencegahan terjadinya stunting,” ujarnya.
Tidak hanya itu, dalam forum tersebut, Arie turut mengangkat potensi makanan tradisional masyarakat sebagai bagian dari pembahasan. Ia berencana mendorong festival jajanan rakyat untuk mengenalkan kembali makanan tradisional yang mulai dilupakan.
“Saya ingin buat festival jajanan rakyat yang sudah kita lupakan, seperti timpan, limpeng, dan lain sebagainya,” kata Arie.
Salah seorang peserta turut menyampaikan makanan tradisional Aceh lainnya, yakni cagruk, yang dinilai menjadi bagian dari kekayaan pangan masyarakat setempat.
Rembuk Stunting 2026 di Gampong Jeumpa Barat diharapkan tidak berhenti pada pembahasan, tetapi dilanjutkan melalui kepedulian keluarga, aksi sosial, koordinasi lintas sektor, dan upaya pencegahan secara berkelanjutan.
![]() |
| Peserta Rembuk Stunting Jeumpa Barat mengikuti pembahasan pencegahan stunting lintas sektor/foto/ist |
JEUMPA - Hal itu disampaikan Arie dalam Rembuk Stunting tahun 2026 yang digelar Pemerintah Gampong Jeumpa Barat, Kecamatan Jeumpa, Abdya, untuk memperkuat komitmen bersama dalam mencegah dan menurunkan angka stunting melalui aksi lintas sektor.
Kegiatan bertema “Penguatan Komitmen Kebersamaan dan Aksi Konvergensi Lintas Sektor untuk Mewujudkan Generasi Sehat, Cerdas, dan Berkualitas menuju Indonesia Emas 2045” berlangsung di Kantor Keuchik Gampong Jeumpa Barat, Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Arie menyampaikan, Bupati Abdya telah menginstruksikan satu orang pejabat menjadi orang tua asuh bagi satu anak yatim. Ia berharap langkah tersebut dapat diikuti pemerintah Gampong sebagai wujud kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Selain persoalan sosial, Arie mengingatkan bahwa stunting tidak hanya berkaitan dengan asupan makanan. Kondisi lingkungan dan kebiasaan masyarakat juga dapat memengaruhi kesehatan serta tumbuh kembang anak.
Salah satu hal yang disorot adalah paparan asap rokok di lingkungan keluarga. Karena itu, kesadaran untuk menciptakan lingkungan rumah yang sehat perlu menjadi perhatian bersama dalam upaya mencegah stunting.
Ia juga mengajak masyarakat memiliki kepekaan terhadap warga yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari. Kepedulian dari lingkungan sekitar dinilai penting untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
“Kalau ada tetangga kita yang tidak bisa makan dalam satu hari, kita harus memiliki kepekaan sosial,” kata Arie.
Pejabat Kecamatan tersebut turut mendorong penguatan nilai keagamaan sebagai bagian dari membangun kepedulian dan tanggung jawab sosial masyarakat.
“Program peukong agama ini perlu kita galakkan kembali,” ujarnya.
Rembuk Stunting 2026 dihadiri unsur Forkopimcam Jeumpa, pendamping Desa, pendamping lokal Desa, perangkat Gampong, bidan Desa, kader Posyandu, PKK, serta tokoh masyarakat.
Pembahasan difokuskan pada data sasaran, faktor yang berpotensi menyebabkan stunting, serta langkah konkret yang dapat dilakukan bersama di tingkat Gampong.
Keuchik Gampong Jeumpa Barat, Taufiq, mengatakan penanganan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat. Pemerintah Gampong, menurutnya, tidak dapat bekerja sendiri dalam memastikan anak-anak tumbuh sehat dan terhindar dari stunting.
“Penanganan stunting ini membutuhkan kerja sama kita semua. Saya berharap angka stunting di Gampong Jeumpa Barat terus kita kurangi,” kata Taufiq.
Ia menyampaikan kondisi stunting di wilayahnya menunjukkan perkembangan positif dibandingkan tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah, angka stunting tahun sebelumnya di Gampong Jeumpa Barat ada penurunan,” ujarnya.
Taufiq berharap capaian tersebut menjadi dorongan bagi seluruh pihak untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan upaya pencegahan di tingkat keluarga dan Gampong.
Sementara itu, Kepala KUA Jeumpa Nazli Hasan menyampaikan bahwa pencegahan stunting harus dipahami sebagai tanggung jawab bersama yang dimulai sejak pembentukan keluarga.
“Kita semuanya memiliki tanggung jawab moral,” kata Nazli.
Menurutnya, calon pasangan perlu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai keluarga dan kesehatan sebelum memasuki kehidupan pernikahan. Pemahaman tersebut penting karena orang tua memiliki peran besar dalam menentukan tumbuh kembang anak.
“Dalam konteks stunting, kita harus mengetahui ilmu pengetahuan sebelum menikah. Sebab peran orang tua sangat penting untuk pencegahan terjadinya stunting,” ujarnya.
Tidak hanya itu, dalam forum tersebut, Arie turut mengangkat potensi makanan tradisional masyarakat sebagai bagian dari pembahasan. Ia berencana mendorong festival jajanan rakyat untuk mengenalkan kembali makanan tradisional yang mulai dilupakan.
“Saya ingin buat festival jajanan rakyat yang sudah kita lupakan, seperti timpan, limpeng, dan lain sebagainya,” kata Arie.
Salah seorang peserta turut menyampaikan makanan tradisional Aceh lainnya, yakni cagruk, yang dinilai menjadi bagian dari kekayaan pangan masyarakat setempat.
Rembuk Stunting 2026 di Gampong Jeumpa Barat diharapkan tidak berhenti pada pembahasan, tetapi dilanjutkan melalui kepedulian keluarga, aksi sosial, koordinasi lintas sektor, dan upaya pencegahan secara berkelanjutan.

.png)



