Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) berencana membangun kembali pengaman tebing Krueng Tangan-Tangan sepanjang 60 meter di Gampong Drien Jaloe yang rusak diterjang banjir. Penanganan diperkirakan membutuhkan anggaran Rp400 juta dan diusulkan pada 2027.
TANGAN-TANGAN - Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Abdya, Rahwadi, menyampaikan rencana tersebut setelah meninjau kondisi pengaman tebing bersama tim teknis pada 5 September 2026.
Peninjauan dilakukan sebagai respons atas laporan masyarakat mengenai kerusakan infrastruktur sungai. Kondisi itu turut berkaitan dengan wilayah permukiman dan lahan pertanian yang kerap terdampak luapan Krueng Tangan-Tangan.
"Kami kemarin sudah cek ke lokasi tentang adanya laporan pengaman tebing yang rusak di kawasan sungai Tangan-Tangan tepatnya di Desa Drien Jaloe," kata Rahwadi, Minggu (6/9/2026).
Dari pemeriksaan tersebut, tim teknis menilai bagian pengaman tebing yang runtuh perlu segera ditangani. Infrastruktur itu diperlukan untuk membantu melindungi kawasan sekitar dari arus sungai yang deras.
"Berdasarkan hasil evaluasi tim teknis di lapangan, Pemerintah Kabupaten Abdya perlu membangun kembali pengaman tebing yang runtuh sepanjang 60 meter," ucapnya.
Selain memperbaiki pengaman tebing, Dinas PUPR Abdya juga merencanakan normalisasi alur sungai sepanjang 50 meter pada titik kerusakan. Upaya tersebut diarahkan untuk mengembalikan fungsi aliran sungai yang dinilai mengalami penyempitan.
"Selain pembangunan fisik tebing, Dinas PUPR Abdya juga mengagendakan program normalisasi sungai sepanjang 50 meter tepat di titik kerusakan," ujarnya.
Rahwadi menyebut penyempitan Daerah Aliran Sungai (DAS) di kawasan tersebut sudah terjadi secara signifikan. Kondisi itu dinilai menjadi salah satu pemicu banjir musiman ketika hujan dengan intensitas tinggi berlangsung.
"Ketika hujan dengan intensitas tinggi melanda, debit air sungai langsung melonjak drastis, meluap ke permukaan, dan tidak lagi mampu ditampung oleh kapasitas sungai yang telah mengecil," jelasnya.
Dampak luapan sungai tersebut dirasakan masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan, termasuk warga yang mengandalkan sektor pertanian padi sawah sebagai sumber penghidupan.
Untuk pembangunan kembali pengaman tebing dan normalisasi aliran sungai, Pemerintah Abdya memperkirakan kebutuhan dana mencapai Rp400 juta. Namun, keterbatasan anggaran pada tahun berjalan membuat pengalokasian dana tersebut direncanakan melalui usulan pada tahun anggaran 2027.
"Mengingat keterbatasan anggaran berjalan, Dinas PUPR berencana mengusulkan alokasi dana tersebut pada tahun anggaran 2027," ucapnya.
Peninjauan lokasi tersebut juga merupakan tindak lanjut laporan warga kepada Bupati Abdya Safaruddin mengenai robohnya pengaman tebing di Desa Drien Jaloe.
Atas laporan itu, kepala daerah memerintahkan Dinas PUPR bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Abdya melakukan pemeriksaan lapangan. Pemeriksaan ditujukan untuk memetakan kondisi kerusakan sekaligus menentukan solusi penanganan yang dinilai paling sesuai.
![]() |
| PUPR Abdya meninjau kondisi pengaman tebing Krueng Tangan-Tangan yang rusak akibat banjir/foto/ist |
TANGAN-TANGAN - Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Abdya, Rahwadi, menyampaikan rencana tersebut setelah meninjau kondisi pengaman tebing bersama tim teknis pada 5 September 2026.
Peninjauan dilakukan sebagai respons atas laporan masyarakat mengenai kerusakan infrastruktur sungai. Kondisi itu turut berkaitan dengan wilayah permukiman dan lahan pertanian yang kerap terdampak luapan Krueng Tangan-Tangan.
"Kami kemarin sudah cek ke lokasi tentang adanya laporan pengaman tebing yang rusak di kawasan sungai Tangan-Tangan tepatnya di Desa Drien Jaloe," kata Rahwadi, Minggu (6/9/2026).
Dari pemeriksaan tersebut, tim teknis menilai bagian pengaman tebing yang runtuh perlu segera ditangani. Infrastruktur itu diperlukan untuk membantu melindungi kawasan sekitar dari arus sungai yang deras.
"Berdasarkan hasil evaluasi tim teknis di lapangan, Pemerintah Kabupaten Abdya perlu membangun kembali pengaman tebing yang runtuh sepanjang 60 meter," ucapnya.
Selain memperbaiki pengaman tebing, Dinas PUPR Abdya juga merencanakan normalisasi alur sungai sepanjang 50 meter pada titik kerusakan. Upaya tersebut diarahkan untuk mengembalikan fungsi aliran sungai yang dinilai mengalami penyempitan.
"Selain pembangunan fisik tebing, Dinas PUPR Abdya juga mengagendakan program normalisasi sungai sepanjang 50 meter tepat di titik kerusakan," ujarnya.
Rahwadi menyebut penyempitan Daerah Aliran Sungai (DAS) di kawasan tersebut sudah terjadi secara signifikan. Kondisi itu dinilai menjadi salah satu pemicu banjir musiman ketika hujan dengan intensitas tinggi berlangsung.
"Ketika hujan dengan intensitas tinggi melanda, debit air sungai langsung melonjak drastis, meluap ke permukaan, dan tidak lagi mampu ditampung oleh kapasitas sungai yang telah mengecil," jelasnya.
Dampak luapan sungai tersebut dirasakan masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan, termasuk warga yang mengandalkan sektor pertanian padi sawah sebagai sumber penghidupan.
Untuk pembangunan kembali pengaman tebing dan normalisasi aliran sungai, Pemerintah Abdya memperkirakan kebutuhan dana mencapai Rp400 juta. Namun, keterbatasan anggaran pada tahun berjalan membuat pengalokasian dana tersebut direncanakan melalui usulan pada tahun anggaran 2027.
"Mengingat keterbatasan anggaran berjalan, Dinas PUPR berencana mengusulkan alokasi dana tersebut pada tahun anggaran 2027," ucapnya.
Peninjauan lokasi tersebut juga merupakan tindak lanjut laporan warga kepada Bupati Abdya Safaruddin mengenai robohnya pengaman tebing di Desa Drien Jaloe.
Atas laporan itu, kepala daerah memerintahkan Dinas PUPR bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Abdya melakukan pemeriksaan lapangan. Pemeriksaan ditujukan untuk memetakan kondisi kerusakan sekaligus menentukan solusi penanganan yang dinilai paling sesuai.

.png)



