Siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mendapat pembinaan keterampilan wirausaha melalui budidaya ikan lele serta tanaman hidroponik sawi dan pakcoy. Program ini diarahkan untuk membangun kemandirian siswa sebagai bekal setelah menyelesaikan pendidikan.
BLANGPIDIE - Koordinator Taman Siswa Hidroponik SLB Abdya, Islahul Umam, mengatakan kegiatan tersebut telah berjalan selama enam tahun dengan siswa menjadi penggerak utama dalam pelaksanaannya.
"Program ini sudah berjalan selama enam tahun. Tujuannya untuk mewujudkan kemandirian hidup anak-anak sebagai bekal bagi mereka di saat sudah lulus sekolah," kata Umam, Senin (14/9/2026).
Menurut Umam, pembiasaan melalui kegiatan produktif menjadi bagian dari upaya sekolah mengenalkan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pelaksanaannya, siswa dilibatkan dalam budidaya lele dan tanaman hidroponik. Jenis sayuran yang dikembangkan antara lain sawi dan pakcoy.
Hasil dari kegiatan tersebut tidak hanya dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Lele dan sayuran yang telah dipanen kemudian dijual, sementara hasil penjualannya diperuntukkan bagi siswa sekaligus menjadi modal untuk pengembangan usaha berikutnya.
"Selain membangun kemandirian, program ini juga untuk memberikan keahlian praktis sesuai potensi dan hambatan siswa. Maka, di SLB ini kita juga ada pelatihan keterampilan seperti membuat kue, menghias payung, dan lain sebaginya," ucap Umam.
Ia menjelaskan, pembekalan keterampilan dilakukan dengan menyesuaikan potensi dan hambatan yang dimiliki masing-masing siswa. Dengan cara tersebut, kegiatan kewirausahaan diharapkan tidak berhenti pada pengalaman belajar, tetapi menjadi bekal praktis bagi kehidupan mereka.
Sementara itu, Kepala SLB Abdya Faisal YR mengatakan masih ada pandangan di tengah masyarakat yang menilai siswa SLB sebagai individu yang tidak mandiri, minim prestasi, atau tidak memiliki masa depan akademis.
Menurut Faisal, pandangan tersebut lebih sering melihat keterbatasan siswa dibandingkan kemampuan beradaptasi serta bakat yang dapat dikembangkan.
"Meskipun kesadaran publik mulai meningkat berkat banyaknya kisah inspiratif dari para siswa disabilitas, tentu ini juga menjadi tantangan kami (guru) untuk melatih dan memberi arahan serta menanamkan pola pikir mandiri, percaya diri, kreatif, dan berani mencoba peluang usaha sejak dini," jelas Faisal.
Karena itu, pihak sekolah terus memberikan arahan dan latihan agar siswa memiliki keberanian untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Keterampilan wirausaha menjadi salah satu bagian dari proses tersebut.
Faisal menyebutkan, SLB Abdya berkomitmen mempersiapkan siswa supaya mempunyai daya saing ketika nantinya berada di lingkungan sosial maupun memasuki dunia kerja.
"Kita ingin mereka tidak dianggap anak-anak yang "lemah" tidak mampu berkarya. Kita ingin buktikan bahwa mereka adalah anak-anak istimewa yang juga memiliki potensi dan keahlian tanpa bergantung penuh pada orang lain," ucapnya.
Ia berharap dukungan masyarakat Abdya terus diberikan kepada para siswa dan siswi SLB. Dukungan tersebut dinilai penting agar anak-anak berkebutuhan khusus mendapat ruang untuk mengembangkan kemampuan dan menunjukkan potensi yang mereka miliki.
Faisal mengatakan perkembangan para alumni menjadi salah satu gambaran bahwa keterbatasan tidak otomatis membatasi kesempatan seseorang untuk berkarya dan menjalani kehidupan secara mandiri.
"Alhamdulillah, saat ini banyak alumni kita yang sudah mandiri. Mereka diterima di tempat-tempat kerja. Tentu ini bukti bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk terus berkarya," pungkas Faisal.
![]() |
| Siswa SLB Abdya mengikuti kegiatan budidaya lele dan tanaman hidroponik/foto/ist |
BLANGPIDIE - Koordinator Taman Siswa Hidroponik SLB Abdya, Islahul Umam, mengatakan kegiatan tersebut telah berjalan selama enam tahun dengan siswa menjadi penggerak utama dalam pelaksanaannya.
"Program ini sudah berjalan selama enam tahun. Tujuannya untuk mewujudkan kemandirian hidup anak-anak sebagai bekal bagi mereka di saat sudah lulus sekolah," kata Umam, Senin (14/9/2026).
Menurut Umam, pembiasaan melalui kegiatan produktif menjadi bagian dari upaya sekolah mengenalkan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pelaksanaannya, siswa dilibatkan dalam budidaya lele dan tanaman hidroponik. Jenis sayuran yang dikembangkan antara lain sawi dan pakcoy.
Hasil dari kegiatan tersebut tidak hanya dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Lele dan sayuran yang telah dipanen kemudian dijual, sementara hasil penjualannya diperuntukkan bagi siswa sekaligus menjadi modal untuk pengembangan usaha berikutnya.
"Selain membangun kemandirian, program ini juga untuk memberikan keahlian praktis sesuai potensi dan hambatan siswa. Maka, di SLB ini kita juga ada pelatihan keterampilan seperti membuat kue, menghias payung, dan lain sebaginya," ucap Umam.
Ia menjelaskan, pembekalan keterampilan dilakukan dengan menyesuaikan potensi dan hambatan yang dimiliki masing-masing siswa. Dengan cara tersebut, kegiatan kewirausahaan diharapkan tidak berhenti pada pengalaman belajar, tetapi menjadi bekal praktis bagi kehidupan mereka.
Sementara itu, Kepala SLB Abdya Faisal YR mengatakan masih ada pandangan di tengah masyarakat yang menilai siswa SLB sebagai individu yang tidak mandiri, minim prestasi, atau tidak memiliki masa depan akademis.
Menurut Faisal, pandangan tersebut lebih sering melihat keterbatasan siswa dibandingkan kemampuan beradaptasi serta bakat yang dapat dikembangkan.
"Meskipun kesadaran publik mulai meningkat berkat banyaknya kisah inspiratif dari para siswa disabilitas, tentu ini juga menjadi tantangan kami (guru) untuk melatih dan memberi arahan serta menanamkan pola pikir mandiri, percaya diri, kreatif, dan berani mencoba peluang usaha sejak dini," jelas Faisal.
Karena itu, pihak sekolah terus memberikan arahan dan latihan agar siswa memiliki keberanian untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Keterampilan wirausaha menjadi salah satu bagian dari proses tersebut.
Faisal menyebutkan, SLB Abdya berkomitmen mempersiapkan siswa supaya mempunyai daya saing ketika nantinya berada di lingkungan sosial maupun memasuki dunia kerja.
"Kita ingin mereka tidak dianggap anak-anak yang "lemah" tidak mampu berkarya. Kita ingin buktikan bahwa mereka adalah anak-anak istimewa yang juga memiliki potensi dan keahlian tanpa bergantung penuh pada orang lain," ucapnya.
Ia berharap dukungan masyarakat Abdya terus diberikan kepada para siswa dan siswi SLB. Dukungan tersebut dinilai penting agar anak-anak berkebutuhan khusus mendapat ruang untuk mengembangkan kemampuan dan menunjukkan potensi yang mereka miliki.
Faisal mengatakan perkembangan para alumni menjadi salah satu gambaran bahwa keterbatasan tidak otomatis membatasi kesempatan seseorang untuk berkarya dan menjalani kehidupan secara mandiri.
"Alhamdulillah, saat ini banyak alumni kita yang sudah mandiri. Mereka diterima di tempat-tempat kerja. Tentu ini bukti bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk terus berkarya," pungkas Faisal.

.png)



