Jeritan kesedihan para nelayan kembali terdengar dari Gampong Lhok Pawoh, Kecamatan Manggeng Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Dangkalnya muara yang semakin parah membuat nelayan harus bertaruh nyawa setiap kali keluar masuk muara untuk melaut.
MANGGGENG - Muara yang kian dangkal dan menyempit akibat tumpukan pasir kiriman gelombang laut menjadi mimpi buruk nelayan. Perahu sering kandas, rusak, bahkan terbalik dihantam ombak saat hendak masuk dan keluar alur sungai. Jeritan ini sudah bertahun-tahun, tapi solusi permanen tak kunjung datang.
"Kami sedih, setiap mau keluar melaut itu seperti mau perang. Harus lihat pasang surut, kalau salah perhitungan perahu bisa kandas dan pecah kenak tumpukan pasir dan batu. Padahal kami hanya ingin mencari nafkah untuk keluarga," keluh salah seorang nelayan Lhok Pawoh dengan nada sedih.
Para nelayan mengaku sudah sering mengadu ke pemerintah, baik di tingkat Gampong maupun Kabupaten. Mereka berharap adanya pengerukan muara dengan alat berat dan pembangunan breakwater (pemecah ombak) agar alur muara tetap terbuka.
"Kalau muara dangkal begini, kami tidak bisa melaut setiap hari. Hasil tangkapan berkurang, biaya servis perahu tambah besar. Kami menjerit, tapi siapa yang dengar?" tambahnya.
Keuchik Lhok Pawoh diharapkan dapat segera menyuarakan kembali keluhan warganya ke Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Abdya dan dinas terkait agar ada solusi cepat sebelum musim ombak besar tiba.
Para nelayan Lhok Pawoh kini hanya bisa berharap pemerintah tidak tutup mata, karena muara adalah urat nadi kehidupan mereka. Jika muara mati, maka ekonomi ratusan kepala keluarga nelayan di Lhok Pawoh juga ikut mati.
![]() |
| Nelayan Lhok Pawoh Manggeng mendorong perahu kandas di muara dangkal/foto/ist |
MANGGGENG - Muara yang kian dangkal dan menyempit akibat tumpukan pasir kiriman gelombang laut menjadi mimpi buruk nelayan. Perahu sering kandas, rusak, bahkan terbalik dihantam ombak saat hendak masuk dan keluar alur sungai. Jeritan ini sudah bertahun-tahun, tapi solusi permanen tak kunjung datang.
"Kami sedih, setiap mau keluar melaut itu seperti mau perang. Harus lihat pasang surut, kalau salah perhitungan perahu bisa kandas dan pecah kenak tumpukan pasir dan batu. Padahal kami hanya ingin mencari nafkah untuk keluarga," keluh salah seorang nelayan Lhok Pawoh dengan nada sedih.
Para nelayan mengaku sudah sering mengadu ke pemerintah, baik di tingkat Gampong maupun Kabupaten. Mereka berharap adanya pengerukan muara dengan alat berat dan pembangunan breakwater (pemecah ombak) agar alur muara tetap terbuka.
"Kalau muara dangkal begini, kami tidak bisa melaut setiap hari. Hasil tangkapan berkurang, biaya servis perahu tambah besar. Kami menjerit, tapi siapa yang dengar?" tambahnya.
Keuchik Lhok Pawoh diharapkan dapat segera menyuarakan kembali keluhan warganya ke Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Abdya dan dinas terkait agar ada solusi cepat sebelum musim ombak besar tiba.
Para nelayan Lhok Pawoh kini hanya bisa berharap pemerintah tidak tutup mata, karena muara adalah urat nadi kehidupan mereka. Jika muara mati, maka ekonomi ratusan kepala keluarga nelayan di Lhok Pawoh juga ikut mati.

.png)



