Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mulai memetakan potensi wisata sejarah dan budaya dengan mendata makam tokoh, bangunan tua, masjid bersejarah, tugu hingga prasasti yang tersebar di sejumlah Gampong.
BLANGPIDIE - Langkah tersebut dilakukan Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disporaparekraf) Abdya untuk menghimpun warisan sejarah dan budaya yang selama ini berada di berbagai wilayah Kabupaten.
Plt Kepala Disporaparekraf Abdya, Safrizal, mengatakan pendataan diperlukan agar berbagai peninggalan sejarah dapat dikenali, dicatat, dan didokumentasikan secara lebih sistematis.
Menurut dia, kekayaan Abdya tidak hanya terletak pada potensi alam. Sejumlah peninggalan juga menyimpan cerita tentang perjalanan masyarakat dan perkembangan daerah dari masa ke masa.
"Karena itu, keberadaan situs sejarah, makam tokoh, bangunan tua, masjid bersejarah, hingga tugu dan prasasti perlu dicatat dan didokumentasikan sebagai bagian dari identitas daerah," kata Safrizal, Rabu (23/9/2026).
Dalam proses tersebut, Disporaparekraf Abdya melibatkan Ketua DPP Aceh Culture and Education (Action), Aris Faisal Djamin, yang juga pemilik Museum Susoh.
Safrizal menyebut pendataan tidak hanya bertujuan mengumpulkan nama dan lokasi peninggalan. Setiap warisan sejarah memiliki cerita serta nilai yang perlu dijaga agar tidak hilang seiring perubahan zaman.
Karena itu, masyarakat di tingkat Gampong diharapkan ikut berperan dalam menjaga keberadaan peninggalan yang diwariskan generasi terdahulu.
Pemerintah daerah, kata Safrizal, tidak mungkin merawat seluruh potensi tersebut seorang diri. Keterlibatan berbagai pihak dinilai penting agar upaya pelestarian berjalan bersama.
"Sinergi dengan tokoh masyarakat, pemerhati sejarah, pelaku budaya, akademisi, komunitas, serta generasi muda menjadi bagian penting agar setiap situs dapat dirawat sekaligus diperkenalkan secara tepat kepada masyarakat luas," ungkapnya.
Dari proses awal pendataan, sejumlah makam tokoh dan ulama telah masuk dalam daftar potensi wisata sejarah dan budaya.
Di antaranya Makam Panglima Ma’ Insya di Gampong Alue Rambot, Kecamatan Jeumpa. Makam Teuku Ben Agam di Gampong Kuta Bahagia. Makam Syekh Mahmud di Gampong Kuta Tuha. serta Makam Tengku Labaidin di Gampong Keude Susoh.
Keberadaan makam tersebut menjadi salah satu jejak yang dapat memperkenalkan kembali tokoh-tokoh yang pernah memiliki peran dalam kehidupan masyarakat Abdya.
Pendataan juga mencakup sejumlah bangunan yang memiliki nilai sejarah. Beberapa di antaranya Madat Lam Kuta di Gampong Lhok Pawoh, Madat Batee Kareung Ujong Manggeng di Gampong Sejahtera, serta Madat Kuta Dalam Labai Dappa di Gampong Kedai Susoh.
Selain itu terdapat Rumah Syahbandar Labai Djamal di Gampong Pinang, Madat Komplek 12 dan Madat Kuala Batu di Gampong Lama Muda, Rumoh Puteh Teuku Cut Din di Gampong Pasar Kuta Bahagia, serta Museum Susoh di Gampong Padang Hilir.
Jejak masa lalu Abdya juga ditemukan pada sejumlah masjid yang turut didata. Di antaranya Masjid Tuha Ayah Gadeng di Gampong Tengah, Masjid Tuo Pusako di Gampong Kedai Susoh, Masjid Teungkulok di Gampong Lhang, dan Masjid Agung Baitur Ghafur di Gampong Seunaloh.
Selain menjadi tempat ibadah, keberadaan masjid-masjid tersebut berkaitan dengan perkembangan kehidupan sosial masyarakat di wilayah masing-masing.
Pendataan terakhir mencakup peninggalan berupa tugu dan prasasti, yakni Tugu Perjuangan Teungku Peukan di Gampong Meurandeh dan Prasasti Shewbuntar di Gampong Lama Tuha.
Dengan semakin lengkapnya data tersebut, pemerintah daerah memiliki bahan untuk melihat potensi wisata sejarah Abdya secara lebih terarah. Pada saat yang sama, pencatatan menjadi bagian penting dalam menjaga agar jejak sejarah di tingkat Gampong tidak hilang dan tetap dapat dikenali oleh generasi berikutnya.
![]() |
| Plt Kepala Disporaparekraf Abdya, Safrizal/foto/ist |
BLANGPIDIE - Langkah tersebut dilakukan Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disporaparekraf) Abdya untuk menghimpun warisan sejarah dan budaya yang selama ini berada di berbagai wilayah Kabupaten.
Plt Kepala Disporaparekraf Abdya, Safrizal, mengatakan pendataan diperlukan agar berbagai peninggalan sejarah dapat dikenali, dicatat, dan didokumentasikan secara lebih sistematis.
Menurut dia, kekayaan Abdya tidak hanya terletak pada potensi alam. Sejumlah peninggalan juga menyimpan cerita tentang perjalanan masyarakat dan perkembangan daerah dari masa ke masa.
"Karena itu, keberadaan situs sejarah, makam tokoh, bangunan tua, masjid bersejarah, hingga tugu dan prasasti perlu dicatat dan didokumentasikan sebagai bagian dari identitas daerah," kata Safrizal, Rabu (23/9/2026).
Dalam proses tersebut, Disporaparekraf Abdya melibatkan Ketua DPP Aceh Culture and Education (Action), Aris Faisal Djamin, yang juga pemilik Museum Susoh.
Safrizal menyebut pendataan tidak hanya bertujuan mengumpulkan nama dan lokasi peninggalan. Setiap warisan sejarah memiliki cerita serta nilai yang perlu dijaga agar tidak hilang seiring perubahan zaman.
Karena itu, masyarakat di tingkat Gampong diharapkan ikut berperan dalam menjaga keberadaan peninggalan yang diwariskan generasi terdahulu.
Pemerintah daerah, kata Safrizal, tidak mungkin merawat seluruh potensi tersebut seorang diri. Keterlibatan berbagai pihak dinilai penting agar upaya pelestarian berjalan bersama.
"Sinergi dengan tokoh masyarakat, pemerhati sejarah, pelaku budaya, akademisi, komunitas, serta generasi muda menjadi bagian penting agar setiap situs dapat dirawat sekaligus diperkenalkan secara tepat kepada masyarakat luas," ungkapnya.
Dari proses awal pendataan, sejumlah makam tokoh dan ulama telah masuk dalam daftar potensi wisata sejarah dan budaya.
Di antaranya Makam Panglima Ma’ Insya di Gampong Alue Rambot, Kecamatan Jeumpa. Makam Teuku Ben Agam di Gampong Kuta Bahagia. Makam Syekh Mahmud di Gampong Kuta Tuha. serta Makam Tengku Labaidin di Gampong Keude Susoh.
Keberadaan makam tersebut menjadi salah satu jejak yang dapat memperkenalkan kembali tokoh-tokoh yang pernah memiliki peran dalam kehidupan masyarakat Abdya.
Pendataan juga mencakup sejumlah bangunan yang memiliki nilai sejarah. Beberapa di antaranya Madat Lam Kuta di Gampong Lhok Pawoh, Madat Batee Kareung Ujong Manggeng di Gampong Sejahtera, serta Madat Kuta Dalam Labai Dappa di Gampong Kedai Susoh.
Selain itu terdapat Rumah Syahbandar Labai Djamal di Gampong Pinang, Madat Komplek 12 dan Madat Kuala Batu di Gampong Lama Muda, Rumoh Puteh Teuku Cut Din di Gampong Pasar Kuta Bahagia, serta Museum Susoh di Gampong Padang Hilir.
Jejak masa lalu Abdya juga ditemukan pada sejumlah masjid yang turut didata. Di antaranya Masjid Tuha Ayah Gadeng di Gampong Tengah, Masjid Tuo Pusako di Gampong Kedai Susoh, Masjid Teungkulok di Gampong Lhang, dan Masjid Agung Baitur Ghafur di Gampong Seunaloh.
Selain menjadi tempat ibadah, keberadaan masjid-masjid tersebut berkaitan dengan perkembangan kehidupan sosial masyarakat di wilayah masing-masing.
Pendataan terakhir mencakup peninggalan berupa tugu dan prasasti, yakni Tugu Perjuangan Teungku Peukan di Gampong Meurandeh dan Prasasti Shewbuntar di Gampong Lama Tuha.
Dengan semakin lengkapnya data tersebut, pemerintah daerah memiliki bahan untuk melihat potensi wisata sejarah Abdya secara lebih terarah. Pada saat yang sama, pencatatan menjadi bagian penting dalam menjaga agar jejak sejarah di tingkat Gampong tidak hilang dan tetap dapat dikenali oleh generasi berikutnya.

.png)



